Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Beberapa hari ini saya tertawa terus setiap kali mengingat perkataan temanku. Ia adalah teman se-gengku semasa menjadi wartawan. Sabtu malam lalu ia tiba di Samarinda bersama teman yg juga menetap di Balikpapan. Ia datang untuk sebuah liputan tentang ambrolnya jembatan Parikesit Kutai Kartanegara. Kutai Kartanegara salah satu wilayah Kaltim yang terkaya dan berada sekitar 50 km dari Samarinda. Di tengah kelimpungannya menulis hasil reportase, ia teriak kepada saya, “lia karena di antara teman-teman hanya kita berdua yg belum menikah, ayuk kita menikah saja,” kata dia tertawa ngakak. Lalu teman-teman ikut nyeletuk, “ia tuh kalian kan sudah sama-sama s2 dan masih single.” Logika ini aneh juga ya : s2 dan single.

Saya sih hanya tersenyum kecut. Malam minggu, gak ada pacar, terus diolokin teman-teman. Yang menelpon saya pas malam minggu hanya satu cowok. Ia teman kerja. Lajang sih, tapi tahu gak alasan dia menelponku hanya ingin menceritakan soal kejadian runtuhnya jembatan berjuluk Golden Gate Kukar ini. Ia juga menyarankan agar mewawancarai narasumber yg melihat langsung kejadian. Lah, aku neh udah gak melakoni pekerjaan wartawan lagi. Tapi demi berbaik-baik, soalnya dia yg menolong saya ketika baru menjadi dosen, maka kuminta nomor hp narasumber itu dan menyerahkan ke temanku yg lagi nulis berita.

Soal ajakan itu memang kutanggapi biasa saja dan menganggap sebagai hal yang lucu. Bisa jadi temanku ini hanya stres sehingga butuh pengalihan. Biasa, berita besar harus melibatkan banyak narasumber. Tuntutan biasa juga lebih besar karena harus menulis beberapa angle. Alhasil, buat lucu-lucuan dia ajaklah saya menikah. Efek liputan, teman-teman pada ceritain soal anak, menjadi formulasi ajakan dia malam itu. Tapi seharusnya saya yang harus curhat malam itu, tapi anehnya di antara kerubutan lelaki ini aku yg jadi sasaran tempat sampah. Mulai soal istri, anak, hingga mantan pacar yg masih terus menggoda. Halah, dasar.

Soal ajakan itu, memang hanya aksi lucu-lucuan saja. Tapi sebenernya kalau kutanggapi serius, saya yakin itu bisa jadi serius. Kami sama-sama perantau, sebenarnya cocok dalam obrolan, dan juga satu suku. Dimana dalam proses apapun terkait kultur dan kebiasaan menikah akan lebih mudah. Tapi tahulah saya, dengan pikiranku yg begitu kompleks, semua hal jadi rumit. Seharusnya saya berpikir sederhana, usia sudah sangat matang (kalau ditanggapi sama alang udah buccuk), kami sama-sama memiliki pekerjaan dengan latarbelakang yang sama, hayo apa lagi yg jadi alasan untuk tidak merealisasikan. Cinta. Halah omong kosong. Cinta hanya ada dalam dongeng kata GM. Lantas? he is not my type. Yaahhhh kembali lagi.

Mengutip kata teman dalam tulisannya, “tak ada yg membuatku bergetar.” ehmmmm ya, i dont have chemistry with him. Tapi memang beberapa lelaki yg dekati saya tak ada yg pernah membuat saya bergetar. Tapi hanya ada satu lelaki yg kerap membuat saya berdebar kencang, meski belakangan ini sudah mulai meredup. Akhir2 ini hadir seorang cinta platonik. Dalam defenisi prof Tommy F Awuy: tak ada keterlibatan fisik, hanya diketahui oleh satu pihak. Ini pola yang terus menerus berlangsung pada diri saya. Kalau ada yg menyukai saya, pasti saya tak suka. Malah menyukai orang yg tak suka saya. Halahhhhh, mana bisa jadian.

Terpikir dalam benakku, jika ada perempuan yg punya kondisi seperti saya, saya yakin pilihannya adalah menerima ajakan orang yg sudah dikenalnya. Meski tak punya perasaan apapun. Menikah karena kondisi sosial menuntut. Atau kusebut nikah sosial. Pada akhirnya toh akan ada rasa juga kalau bukan jadi kebiasaan bisa jadi sindrom. Misalnya sindrom Stockhlom. Sindrom ini memiliki karakter setia pada penyanderanya. Nah, menikah tanpaa cinta dengan alasan sosial kita samakan saja sebagai sandera. Lama kelamaan seperti Carol Smith yg akhirnya menaruh rasa sayang kepada penyandernya. Ahhhhh entahlah hhihihi. Atau malah terus2an terjadi sindrom lima, dicintai terus menerus oleh penyandera halah.

Tapi sudahlah….Met malam gw besok ngajar….

sedih

Kesedihan memang sangat subyektif, maka itu ketika kamu sedih sebaiknya tak memperlihatkan secara terbuka. Jangan pula berharap orang dekatmu berempati, karena tak semua orang mengerti kesedihanmu. Tersenyumlah seolah tak ada persoalan yg kamu hadapi.

Saya belajar untuk terus menerus mengakarkan pikiran ini dalam benakku. Berusaha sedapat mungkin mencari cara bahwa kesedihanku tak lebih menyakitkan dari orang lain. Mungkin benar petuah orang tua bahwa jangan pernah melihat ke atas. Oke mungkin itu tak sama, tapi buatku makna petuah ini sedikit banyak bisa diadopsi dalam hal kesedihan. Kesedihan sama dengan strata—melihat ke atas atau ke bawah. Kalau terus melihat orang lain dengan persepsi mereka bahagia, maka kita akan terus berpikir sebagai orang yang menyedihkan. Saya pikir ini bisa membuat kita terjerembab, bisa juga mendapatkan hikmah. Beuh terlalu sok bijak. Tapi begitulah sebaiknya.

Kerap ketika saya bersedih, saya selalu ingin menjadi pendengar. Mendengarkan kisah-kisah orang lain. Sehingga persepsi saya menganggap mereka tak lebih dari saya. Supaya saya merasa bahwa kesedihan yg jadi milikku tak lebih menyedihkan dari milik orang lain. Saat tahu orang lain memiliki kesedihan yg tingkatnya lebih rumit dari diriku, saat itu saya bisa bernafas lega, toh saya tak sendirian dalam kesedihan. Bahkan, acap melihat kesedihan orang lain lebih parah, sehingga mampu berdamai dengan rasa sedih yg mengendap di hati.

Move First

Saya mengenal dengan baik dua perempuan ini. Mereka lucu, cerdas, dan dari semuanya mereka perempuan yang optimis. Saya selalu iri dengan rasa optimisme mereka. Terutama dalam mengejar cinta. Tak heran, mereka benar-benar yakin cinta akan datang menemui mereka jika tetap berharap dan tak lupa berusaha keras. Ehmmm, sangat berbeda dengan saya yang apatis.

Saya mengagumi kegigihan mereka untuk mendekati cinta mereka. Mereka memilih dan melangkah lebih dahulu jika menyukai seseorang. Saya selalu tak berani. Hanya menatap atau berharap bertemu. Tak berani bicara jika ketemu. Selalu saja ada campur tangan teman jika bertemu dengan orang yang kusukai. Tak pernah berani memberi sinyal, jika tanpa dorongan teman-teman.

Tapi mereka, selalu punya inisiatif dan ide untuk bertemu lebih dulu. Mengirimi SMS untuk alasan yang berbeda-beda, membawakan makanan, buku, dan hadiah di hari ulangtahunnya. Bahkan, menyatakan perasaan mereka lebih dulu. God, saya hanya berani menatap dan melihatnya berbicara dengan orang lain. Mereka berani menerima penolakan. Hebat.

Perempuan satu ini adalah teman semasa kuliah dan kemudian menjadi sahabat di masa-masa kami mulai meniti karir. Ia yang mendorong saya untuk kuliah lagi dan banyak motivasi lainnya. Ia menjalani hubungan emosional dengan beberapa lelaki. Selalu kandas entah karena jarak maupun prinsip yang tak klik. Tapi tetap saja mampu menjalani hubungan selanjutnya. Terakhir, ia menyukai seseorang, kebetulan adalah sahabat temannya. Ia melangkah lebih dulu dengan menyatakan perasaannya. Ia menceritakan pada saya mengenai respon si cowok itu yang hanya tertawa dan kemudian bilang, “is it true?”

Namun belakangan ia mulai terdengar gamang. Melalui sms dia bertanya padaku, “Li, jika seorag laki2 tidak ingin ditahu tentang dirinya lebih banyak lagi, apa itu berarti dia tidak ingin serius dengan kita? saya jawab IA. Itu sebuah pertanda. segera setelah beberapa sms kami yang berbalas2an, datang sebuah sms keputusan. “jangan menghabiskan banyak waktumu pada seseorang yang di masa depan tak akan membuatmu bahagia.” Lalu ia mengutip lagu teranyar Astrid. “Karena hatiku tak akan kuberi, pada kekasih yg tidak baik hati. jadi daripada aku mengharap kesungguhannmu aku lebih memilih pergi dan cari penggantimu.”

Ia putuskan tak akan mendekati si cowok itu lagi. No hp bahkan ia hapus dan tak ingin menghapalnya. Tapi saya tahu, kendati memutuskan secara emosional tak akan melihat segala hal tentang lelaki itu, tetap saja ada kerinduan yg sulit lepas. we need more powerfull words to forget everything bout him. hell yeahhhh….Tapi saya yakin seperti lagu Astrid itu, ia tak menutup peluang lelaki lain untuk masuk ke relung hatinya….ehmmmm i think you just likes gigi, dia percaya dan yakin dan terus berupaya akan menemukan cinta sejatinya…saya berdoa untukmu sobat.

Sementara teman yang satu lagi masih terlihat hangat-hangatnya mendekati seorang cowok yang cukup kukenal baik. Ia seperti temanku yang kuceritakan tadi, optimis dan berusaha. Ia tahu lelaki itu sangat menyukai buku, maka buku adalah hadiah yang paling sering ia berikan selain kue. Saya selalu menjadi orang yang harus menemaninya membawakan hadiah-hadiah itu. Entahlah, mungkin lelaki ini sudah mulai luluh. Tetapi ia seperti lelaki yg sangat kusukai, belum siap dengan hubungan serius. Sebabnya, masih banyak urusan keluarga yg belum selesai ia rampungkan. poor my friend, poor me!

Saya sendiri sangat yakin dengan bahasa tubuh, sangat yakin dengan pertanda, dan sangat yakin dengan gejala. Untuk mengetahui itu, saya selalu merujuk sama film He’s Just Not That In To You. “Kalau dia tak nyamperin kamu duluan, itu tanda kalau dia anggap kamu bukan siapa-siapa,” ucap aktor Justin Long kepada karakter perempuan dalam film bernama Gigi. Semua tanda itu sangat jelas kubaca pada kasus dua temanku termasuk saya sendiri. Jadi sobat, ingatlah pesan Justin Long, kalo dia tak nyamperin kamu duluan, sudahlah, forget him, find someone else! (seraya berharap kalimat terakhir yg kutulis itu merupakan sugesti yg sangat kuat buat saya…..God HELP ME!!!!!)

setelah setahun

Sambil menunggu kantuk yang tak juga datang (tumben sekali), jadi teringat dengan blog kami berempat (saya, Liah, Ani dan Ana) yang dbuat setelah sebuah makan malam di Mal Panakukang, awal 2009. Pertemuan kami kembali di Makassar, setelah berpisah nyaris 1 dekade. Akhirnya kami bersepakat membuat blog “lajangbahagia” dan Ani yang lebih melek teknologi dibanding kami bertiga akan membuat blog-nya. Dan kami berempat boleh menuliskan apa saja di blog itu. Walopun pada akhirnya Liah yang paling produktif menulis :D . Walo diikrarkan berempat, waktu itu kami mengundang the lajangers yang lain, khususnya Ana Rusli dan Hayati Maulana untuk ikutan mengisi blog ini, namun sampai saat ini tak pernah dipenuhi, hehehe. Setelah 2 tahun berlalu, jadi rindu menengok blog ini dan memenuhi janji pada Liah untuk memposting tulisan perpisahan setelah saya menikah April 2010. Dan baru sekarang, saya bisa memenuhi janji itu.

Sebenarnya tak penting. Hanya ingin menuliskan jejak kami berempat setelah 2 tahun berlalu. Dimana, bagaimana dan kemana kami sekarang. Saat itu, entah kebetulan atau tidak, kami yang dulu seangkatan magang di Penerbitan Kampus Identitas Unhas bertemu kembali di sebuah titik di Makassar setelah kami mencari hidup dan penghidupan di tempat lain. Ani, saat itu sedang menyelesaikan tahun terakhir di program S2 Komunikasi Unhas dan sudah bekerja di Humas Pemprov Gorontalo. Liah menjalani tahun pertama di program yang sama setelah meninggalkan profesi jurnalis di provinsi terkaya di Indonesia, Kalimantan Timur. Sedangkan Ana mengambil program akta mengajar (cmiiw) dan akan kembali mengajar di provinsi yang sama dengan Liah. Saya sendiri-akhirnya-bekerja di kota kelahiran tercinta setelah bekerja di Palu dan Aceh sejak 2001 (hmmm..sudah tua).

Saat itu kami sama-sama bertekad, harus sukses menyelesaikan sekolah dan harus sekolah lagi. Dan hari ini…2 diantara the lajangers tidak lajang lagi, dan 2 diantara the lajangers masih lajang namun sudah menyandang helar S2. hmmmm…Apa yang istimewa? Bagiku sagat istimewa. Kami bertemu disebuah titik ketika semua orang mulai mempertanyakan kesendirian kami. Entah sekadar menghibur, jujur bahkan prihatin, umumnya berkata, apa sih yang kalian tunggu. Masak diantara pengembaraan itu tak menemukan seseorang yang pas. Toh (katanya) wajah kami tak jelek-jelek banget (fisikal sekali yah), walo tak kaya, kami punya pekerjaanlah dan modal pendidikan, cukuplah. Tapi bukankah mencari pasangan bukan sesuatu yang matematis?

Kami terus berjalan dan menapaki episode kehidupan kami dan harus siap menjawab kegelisahan, kegamangan dan pertanyaan dari keluarga, teman, sahabat, rekan sejawat dan diri sendiri. Mengapa kami masih sendiri? Bagiku sendiri, tak jelas mengapa. Saya bukannya anti menikah, namun sampai pada sebuah titik ketika kukatakan pada diriku sendiri dan sahabat-sahabat yang bertanya tak akan menikah hanya karena memenuhi tuntutan lingkungan dan normalitas masyarakat. Entah itu tuntutan keluarga (dan thanks untuk bapak-ku yang menganggapku sudah dewasa untuk menentukan hidup), takut dicap perawan tua dan berbagai stereotype lainnya. Aku akan menikah jika sudah menemukan yang pilihan yang tepat, tepat untukku dan tepat untuknya. Alhamdullilah, Allah,SWT menjawab doa-doaku untuk memilihkan jodoh yang tepat. Tak perlu proses lama, aku dan calon suamiku, hanya butuh waktu sebulan untuk meyakini bahwa hubungan kami sudah harus lebih dari teman, dan kami bersepakat untuk menikah beberapa bulan setelah itu.

Setelah setahun masa pernikahan kami, saya baru mengingat kembali janjiku untuk menulis lagi. Tapi perlu kutambahkan teman, menjadi lajang memang membahagiakan, tetapi memiliki suami jauh lebih membahagiakan. Jujur…memang tak mudah menghadapi transisi ketika hidup kita harus berbagi. Saya butuh waktu untuk melalui itu, dan setelah setahun, saya merasa makin menemukan arti menikah dan arti berbagi. Setiap hari adalah sebuah proses untuk saling memahami karakter dan perbedaan masing-masing, dan buatku, menikah itu menjadikan kita bisa lebih bijak, dewasa dan lebih mampu berbagi.

Bagaimana Ana?….Untuk Lia dan Ani…seperti dulu saya juga jengah selalu ditanya kapan menikah, kenapa tidak menikah, jangan terlalu memilih, saya bisa merasakan itu teman. Jadi, saya tidak akan menyarankan apapun…semua orang berhak atas hidupnya. Cukuplah apa yang kutuliskan ini untuk kita nikmati bersama *sambil melirik-lirik Ana Rusli dan Hayati Maulana* sembari mengingat percakapan-percakapan kami dengan Kak Muhary yang selalu siap mendengar curhatan para the lajangers (saat itu).

Melelahkan menjawab satu per satu pertanyaan teman kapan menikah, kapan menikah. Inilah yang terjadi setiap menghadiri pernikahan teman. Yang terakhir kudatangi pernikahan sahabatku. Sebab kami memiliki teman dan komunitas yang sama semasa kuliah, maka kebanyakan yang datang juga adalah yang sangat kukenal. Tentunya, pertanyaan itupun yang jadi santapanku berhadapan dengan mereka. Hehehe. Saya cuma bilang saya menikah bulan 12 tapi tolong bawakan pengantin prianya. Dan mereka tertawa, sepertinya bahagia dengan jawabanku. hahahahah

Saya ingin bercerita tentang kami berlima. Semasa kuliah, kami bersahabat lima orang. Hingga 10 tahun usai kuliah, kami masih tetap menjalin persahabatan. Dua di antaranya cukup cepat menikah. Tia bahkan usai KKN sudah menikah, sedangkan Warda setahun menjadi sarjana memutuskan menerima perjodohan yang diatur kakaknya.
Tinggallah kami bertiga. Saya, alang dan ana. Alang yang bermukim di ujung Kaltim, Nunukan, cukup lama memutuskan menikah setelah sekian lama putus dengan pacar semasa kuliahnya. Dia cukup sedih kurasa dengan putusnya hubungan mereka. Sehingga hingga 12 tahun sejak mereka putus, ia belum juga menemukan orang yang cocok. Hingga akhirnya setahun lalu dia bertemu dengan Ismail dan memutuskan mengakhiri masa lajangnya. Mereka beda umur empat tahun. Brondong katanya hehehe. Entahlah Alang tak cukup banyak bercerita kenapa dia memilih Ismail. Hampir kebanyakan perempuan ketika berumur 30 tahun mulai was-was. Dan ketika ia memutuskan menerima Ismail, umur Alang sudah 31 tahun. Ehmmm

Saat menghadiri pernikahan Alang, saya dan Ana bilang siapa di antara kami yang lebih dulu menikah. Kujawab, pasti kamu ana. Saat itu dia juga agak meragu, meski punya pasangan yang sudah lama ia pacari, dia masih tak yakin. Ini karena mereka tengah vakum dan memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Meski dia bilang siapa yang tahu, bisa jadi saya lebih dulu, toh dalam hati saya juga tak yakin. Mengingat saya tak mudah cocok dengan pria akibat ideologi yg kuanut.

Tapi di sinilah kami di pesta pernikahannya bersama pacar 14 tahunnya. Dan sayapun jadi bahan perbincangan yang menarik. Hahahahaha. Yah, banyak sih hal yang menyakitkan. Tapi itulah konsekuensi hidup di dunia yang menganggap pernikahan adalah hal yang penting. Capek aja bilang gw bakal menikah kalau menemukan orang yang cocok (pernikahan bukan soal umur, tapi tentang menemukan orang yang cocok). Plis deh. Jadinya gw hanya bisa tersenyum kecut doang. Dan berharap pesta ini segera berakhir. Hahahaha maaf ana.

Herannya, saya tak juga merasa khawatir, tak merasa takut, tak merasa harus cepat menikah. Memang sih, sedih banget ana menikah, karena tahu bakal gak ada lagi temanku yang punya masalah yang sama: didesak menikah. Kalau soal dia akan memilih suaminya ketika saya butuh dia, ya emang dari dulu begitu juga. Saya curhat ketika dia tak punya masalah. Tapi kebanyakan memang semua sahabatku yang curhat sama saya.

So, saya selalu menganggap tak akan pernah kehilangan mereka meskipun mereka sudah menikah. Malahan mereka kadang yang suka mencari saya, ingin bercerita macam-macam. Sebab saya bukan tipikal perempuan yang sepi kerjaan, hidupku selalu dipenuhi banyak hal. Menemukan banyak teman-teman baru. So, kalau dianggap gw bakal kesepian, gak pernah tuh. Emang sih ada saat kita merasa kesepian tapi itu hal yang lumrah, siapa bisa menjamin ketika menikah kita juga tak kesepian. Kesepian kan adalah masalah rasa di dalam diri, bukan tentang keadaan yang ramai.

Nah, inilah yang kadang bikin heran sendiri dengan diriku. Gw terlalu kuat menghadapi persoalan apapun. Mungkin juga karena saya merasa tak ada lelaki di dunia ini yang punya perspektif feminis, egalitarian, sehingga tak membuat saya ingin cepat-cepat bersama pria dan menghabiskan seluruh hidupku bersama pria. Setiap kali menganggap cowok ini cakep, atau cerdas, atau baik, tapi pada saat yang sama saya beranggapan dia tak bisa memahami ideologi feminis yang melekat sangat kuat dalam pikiranku bahkan tindakan.

Kata temanku, saya cocok menikah dengan bule. Tapi saya tidak sepakat dengan kebebasan seks yang mereka anut, agama kami berbeda, nilai-nilai ketimuran yang masih penting buat saya (beberapa hal). Pada akhirnya, saya hanya bisa tersenyum (kecut dihadapan merka). Plis deh, saya hanya mau merasa tenang dengan semua hal yang kuyakini. Tak peduli dengan pikiran setiap orang. Tapi setiap kali ditanya, membuat saya kelelahan saja.

kompromi

Untuk sebuah urusan saya kembali ke Kalimantan Timur. Setelah semua selesai, singgahlah saya di salah satu kota di Kaltim, Balikpapan, menunggu hingga balik lagi ke Makassar. Di kota minyak itu, saya menjadi tamu temanku yang kebetulan sudah menikah. Kami adalah sahabat. Dia dulunya jurnalis di sebuah media elektronik. Kami adalah partner yang kuat ketika bersama meliput. Isu-isu yang kami tampilkan selalu leading. Kami yang awalnya diremehkan sejumlah jurnalis, mulai ketakutan dan akhirnya merapat ke kami.
Waktu itu kami hanya menertawai mereka, meski tetap menerima. Yah, kami kan memang bukan mencari musuh, hanya ingin bekerja dan bisa membeli kesenangan. Dia perempuan yang cukup tangguh, walaupun secara fisik terlihat rapuh. Tapi jangan salah, dia punya pandangan yang kuat terhadap persoalan hidup. Kami adalah tim yang hebat. Dan dia kerap merindukan saat-saat itu. Begitupun saya.
Di rumahnya saya menginap beberapa malam. Setiap hari seorang sahabat yang juga tim kami ketika itu, kerap mengunjungiku usai deadline di kantornya. Kami kembali curhat-curhatan. Terutama mengobrol tentang langkah ke depan dan soal mendapatkan pasangan. Hehehe biasa, curhatan para lajang. Dia juga nimbrung. Lalu memberi komentar, bukan petuah atau nasehat, karena dia bukan tipikal perempuan bersuami yang sok mengajari kami tentang memilih suami.
Agak terhenyak saya dengan komentarnya, meski sangat tahu dan jelas latar belakang pilihannya untuk menikah dengan suaminya. Dia bilang, hingga saat ini dia masih belajar mencintai suaminya, tapi meskipun kondisi perasaannya seperti itu dia bahagia dengan semua pilihannya. Ia tak mau memilih lelaki yang sangat dicintainya (yang sebenarnya juga mencintai dia). Ia mengaku capek menghadapi segala tetek bengek urusan dengan lelaki yang sangat dia cintai. Pertama, dia menunggu lama, kedua dia harus berkompromi untuk bersama keluarga lelaki itu, selebihnya dia harus menghadapi keluarga pacarnya yang menengah ke atas, perbedaan sosial, hingga ketakutan kehilangan lelaki itu.
Dengan suaminya, ia bisa menjadi dirinya sendiri, memahami keluarganya, mengerti perasaannya, tak terlalu menuntut, dan di atas semua itu sangat mencintainya. “lia, kalau dengan lelaki yang sangat kita cintai, dia akan memperlakukan kita semena-mena, cuek, saya tidak bisa bergaul lagi dengan kalian, dan harus menjadi ibu rumah tangga yang benar-benar melayani dia. Saya mungkin bisa melakukannya karena cinta. Tapi ketika kita menikah, banyak hal akan mengubah itu. Bukan hanya tuntutan menjadi ibu atau istri, tetapi kita tentu ingin dimengerti dan didengarkan perasaan-perasaan kita. Bersama suamiku saya bebas mengutarakan segala yang menjadi pikiranku,” katanya.Ia pun menegaskan, kalau memilih suami disarankan yang benar-benar mencintai kami.
Saya melihat banyak perempuan yang melakukan hal yang sama seperti temanku itu. Meski ada seseorang yang sangat dia cintai, dia akhirnya memilih hengkang dari lelaki yang dicintainya.Berkompromi dengan dunia untuk memilih lelaki yang sangat mencintainya, karena yakin suatu saat ia akan bisa mencintainya.Kalaupun tidak, ia bisa belajar terus menerus mencintai lelaki yang sangat mencintainya. Menurutku itu memang benar. Banyak perempuan bilang ya dirinya menikah karena merupakan pilihannya, SALING MENCINTAI. Menurutku tidak, itu hasil kompromi deh. Dia berkompromi karena lelaki yang dia cintai tak mencintainya, akhirnya memilih lelaki yang memilihnya, lalu kemudian mengatakan inilah lelaki yang dia cintai. Saya melihat perempuan mudah jatuh cinta bila dia mendapat perhatian, dimengerti, sering bersama, dan nyambung.
Tapi buat saya sendiri, perasaan memang hal yang sangat kompleks. Karena kompleksnya, apa yang dia katakan temanku dan kemudian kusetujui, bisa jadi bukan pula hal yang mutlak. Akan banyak variannya. Karena itu, banyak yang bilang biarlah seperti air yang mengalir. Jangan jatuh cinta terlalu dalam, jangan mematok terlalu rigid, jangan jangan jangan. Ya, tentang hal ini memang saya harus menyepakati Mayong Suryolaksono, saya ingin hidup seperti air yang mengalir. Artinya sesuai apa yang sudah jadi takdirku. setelah sekian lama saya berusaha, bekerja dan ingin mencapai sesuatu, namun pada akhirnya bermuara pada sesuatu yang diinginkan Tuhan. Ya sudah, syukuri saja, paling tidak kita sudah berusaha. Kita tak stres dan bisa bahagia. Apapun itu, silahkan takdirkan untuk saya. APAPUN ITU.

buta

Selama beberapa hari, saya terlibat dengan organisasi tunanetra. Awalnya, saya tidak tahu mereka dilibatkan. Workshop Komnas HAM kupikir hanya terkait masalah penculikan, pembunuhan, atau ketidakadilan. Ternyata mereka memang terkait juga, karena ada kecendrungan mereka tak mendapat porsi tepat dalam pelayanan pemerintah karena dianggap tak memberikan kontribusi pada negara, hanya beban dan dianggap sebagai orang yang sakit. Maka saya pun ngeh dengan hadirnya mereka.
Dari situ, saya mengenal seorang bernama Rhm. Agak sok anaknya. Kalau orang kalimantan bilang pembualan, waluh. Hahahahaha, agak lama saya baru sadar kalau ternyata dia buta (Bola matanya yang hitam masih bergerak searah ketika dia menatap seseorang, makanya kupikir dia seperti teman yang lain, bukan tunanetra). Saat rapat dia ngomong banyak tentang kedekatannya dengan sejumlah tokoh dan pejabat tinggi di Makassar. Dia juga cerita mengenal banyak wartawan. Kelihatannya dia juga menganggap saya anak baru yang tak kenal apapun.
Saya memberi kesempatan untuk tak langsung apriori pada dia, mengingat keterbatasannya. Mungkin dia hanya mau bilang, hei aku ada di dunia ini. Biasa eksistensi diri. Okelah. Dia bilang beruntung menjadi tunanetra pada usia 14 tahun (kini usianya 28 tahun), paling tidak banyak hal yang bisa dia jumpai, berorganisasi di Pertuni membuatnya dengan mudah dekat Walikota. Sepertinya memang dia bangga dengan pencapaiannya selama ini, walaupun memiliki keterbatasan indera penglihatan, dia mampu mengeksplorasi diri. Saya sih tak peduli dengan semua hal yang dia umbar itu, hanya saja saya agak terganggu dengan ambisinya yang pada akhirnya terkesan melecehkan orang (dalam psikologi, kerap orang yang sering dilecehkan punya kecendrungan melecehkan orang lain, agar orang lain punya kesakitan yang sama dengan yang dialaminya…ingat ospek?)
Karena menganggap saya orang baru dan tak punya posisi apapun di dunia pers di Makassar, maka ketika saya memberikan nomor telepon sejumlah wartawan yang hanya saya kenal baik, dia bilang wah saya masih harus ke kantor AJI nih, nomor kontak wartawannya masih kurang. Halah, dalam hati kubilang itu sudah cukup kok, mewakili wartawan yang ada di Makassar.Tapi sudahlah…silahkan saja. Kemudian dia mulai membual lagi dengan segala pencapaiannya. Saya bilang, segala kehebatan itu tak penting, yang penting ketika kamu kehilangan satu indera, kamu diberi kelebihan lain berupa kepekaan lain. Misalnya kamu lebih peka merasakan dan mendengarkan. Dia sangat peka posisi saya duduk tepat berada di mana.
Tapi setelah beberapa hari ini mengenalnya dan orang-orang di seputaran lingkungan bergaulnya, saya tersadar banyak hal. Dia juga butuh dianggap eksis. Namun terlebih adalah dia kesepian. Sayangnya dia tak humble. Saya agak takut berteman dengan dia. Buatku, saya hanya perlu kenal sepintas saja, setelah itu tak perlu lagi terlibat lebih jauh.
Anyway, saya juga memperhatikan beberapa perempuan yang terlibat dengan para tunanetra. Tak jelas apakah mereka relawan atau kerabat para tunanetra. Saya tak sempat tanyakan. Sepertinya mereka nyaman berada di sekitar tunanetra itu. Kebanyakan tunanetra adalah lelaki. Kalau jujur, meski sangat relatif, perempuan ini kebanyakan memang tak cantik. Seperti istri salah satu tokoh pertuni. Sempat dengar cerita tentang proses lamarannya yang mengalami tentangan keluarga, namun akhirnya bisa bersatu juga. Mungkin memang perempuan tak mempersoalkan secakep apa pasangannya, senormal apa pasangannya, asalkan mencintai mereka tanpa melihat fisik, perempuan akan menerima lelaki itu seabnormal apapun dia. Perempuan di seputaran tunanetra ini merasa nyaman tak perlu berdandan, tak perlu modis, tak perlu cantik, tak perlu sesempurna model untuk bisa dicintai seseorang.

Perhelatan Hujan

Setiap hujan menurunkan bulir-bulir bening dari ketinggian yang tidak pernah aku tau. Aku merasa jauh darimu. Aku merasa kamu sudah meninggalkanku jauh sebelum pertengkaran kita disebuah danau dengan ribuan rumput ilalang hijau kekuningan, rindangnya pohon sukun dan buramnya air.

Aku merasa kamu jenuh dan ingin sekali melepaskanku. Tapi sikapmu itu tak sesuai dengan hatimu, bibir kita yang sudah kering mengoceh mengenang dan menendang masa lalu saling bertautan teraliri bulir cairan dingin menembus kulit.

“Aku ingin kita putus.”
“Apa salahku?”
“Aku di jodohkan!”
……………………………….

Bukan itu saja, ketika hujan dengan ganasnya membongkah-bongkah tanah kering yang baru disapu aku tau hatiku sakit seperti luka besetan yang dilumuri perasan air jeruk nipis.

Kamu bilang semuannya akan baik-baik saja ketika aku sudah menemukan hujan yang bisa membuatku damai. Tapi aku diam saja ketika kamu mengajakku kembali bercinta.

“TOLOL!”
“Aku sayang..dan itu kebutuhan,”
“Terserah kamu,”

Protes keras dari dia sahabat terbaik yang selalu mengoceh dan mengingatkanku tentang apa yang akan kuperbuat dulu, saat ini dan yang akan datang agar aku tidak salah langkah seperti dirinya menjual tubuh hanya untuk mendapatkan lembaran uang bemuka manis menjadi pahlawan untuk menghidupi anak yang baru saja dilahirkan tanpa seorang ayah.

Kalau mau diputar aku ingin waktu ketika hujan tidak membawaku bertemu dengannya. Disuatu senja ditengah buliran hujan di depan sebuah bangunan bercat putih pucat yang hampir mengelupas. Kamu begitu mengagumkan wajahmu bersinar dari kejauhan semakin dekat aku menangkap dua lesung pipit jelas berukir di pipimu. Saat itu kamu menggunakan kemeja ungu bercelana kain hitam di dadamu terlintas tali tas yang terparkir disebelah kiri tubuhmu.

Aku datang dan sebentar-sebentar melirikmu dengan tatapan tajam. Ingin sekali aku mendapatkan kehangatan dari kedua dadamu yang terlihat bidang dari celah-celah kancing kemeja salah satunya tidak kau sematkan.

“Kamu basa, ini ambil,” katamu sambil mengulurkan dua lembar tisu yang kamu bawa.
Ajaib pria tegap bertubuh atletis selalu membawa lembaran tisu. Aku semakin merasa ada yang berbeda pada perasaanku. Ada sesuatu yang mengaliri jauh di dalam tengorokan dan jatuh tepat dibagian yang di namakan hati.

Dari perkenalan itu, aku kembali mendapatimu pada sebuah bar kecil diapit dua bangunan gedung tua. Kamu mengenakan kaos putish bercelana hingga lutut. Perawakanmu santai sambil tersenyum melihatku menatapmu dari kejauhan.

Kamu percaya jodoh?
Apa sih jodoh itu?

Kalau seringkali ada yang mengatakan jodoh berarti couple, bisa juga mate ada juga yang bilang soul mate itu bisa saja. Tapi yang kita tau jodoh itu mate yaitu made by destiny.kalau ditilik lebih dalam jodoh mempunyai sistem yang tidak bisa ditebak. Tidak bisa ditawar bahkan kadang tidak bisa diminta. “Kok bisa begitu?,”

Nah, jika kamu orang muslim pasti kamu akan percaya bahwa jodoh adalah hak prerogative dari Allah. Bahwa jodoh adalah suatu bagian dari lahir, mati,jodoh, rejeki yang menjadi rahasia sang kholik. Tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa orang yang menikah dengan kita selama berpuluh tahun di dunia adalah jodoh kita di akhirat.

STOP aku sudah mulai mengerti mengapa kita dipertemukan ditengah reruntuhan bulir hujan, tiupan angin dan senyuman manis dilesung pipitmu. Agar aku bisa menikmati kehangatan dan kenikmatan kenyamanan dan penderitaan agar aku bisa lebih tangguh dan tidak menjadi tolol agar aku dapat berpura-pura menjadi wanita yang terlihat ramah, rapuh dan pura-pura tolol. Agar selalu percaya tentang semua penjelasanmu kepadaku.

“Mana ada dijaman sekarang seorang pria yang mapan, intelektual mau dijodohkan sama perempuan yang nggak pernah dia lihat sebelumnya, come on..ini bukan jamannya Siti Nurbahayah lagi, ini jaman sudah modern!,”

“hiks..hiks..hiks.,”
“Kalau mau teriak. Teriak saja lah, jangan ditahan nanti jadi gondok,”
“AHHHHHHHHHHHHK……………………….BAJINGAN…………………….AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHK, Aku sayang kamu,”
………………………………….

Sekarang aku sangat membenci hujan. Aku menentang kehadiranmu dengan bersembunyi di dalam kamar dibawah selimut tebal dan berharap kamu dikutuk dalam hujan.

Aku benci hujan tapi aku sulit untuk melupakanmu. Aku merasa kamu adalah jodohku yang seharusnya jadi jodohku walaupun aku tau kamu pernah bercinta dengan sekretarismu di bawah meja kerja, di belakang pintu ataupun di jok mobil belakangmu. Tapi aku tetap mencintaimu dengan segenap tubuh dan jiwaku yang sudah kamu cabik-cabik hingga aku butuh belaianmu untuk memulihkan tubuhku yang lemah dan tidak berdaya.

“Haloo..hey apa kabar,”
……………………………….
“Lex..kamu dengar aku?,”
“Ehmmm aku cuma ingin bilang sesuatu,”
“Gimana kabarmu, maaf yah,”
“Aku sudah memaafkanmu!,”
…………………………………..
Kedua sambungan telepon itu kemudian hening tanpa ada suara
“Ehmmm ada yang mau kusampaikan ke kamu,”
“Mau bilang apa manizz…”
“Kamu BAJINGAN .laki-laki nggak bertanggung jawab pembohong seharusnya kamu mati di NERAKA, aku sedang mengandung anakmu,”…………….”klik”

Drama 1 Babak

BUKAN berita duka bukan juga berita kebahagian. Aku sendiri sulit untuk mengartikannya si A sedang jatuh cinta si B merasa putus asa dan si C merasa hidupnya tidak berguna. Jadi dimana kebahagian dan dimana merasa kemalangan?

Kalau si A jatuh cinta pasti itu berita kebahagiaan tapi ternyata ckckckckc nol besar. Begini, kalau si A jatuh cinta itu malah petaka wanita yang sudah menikah lewat 6 bulan ini baru saja merasakan nikmatnya jatuh cinta. Dia memang menyadari kalau menikah dengan mantan suaminya saat ini adalah kesalahan yang besar. Satu dia tidak mencintai si suami yang masih terbilang kekanak-kanakkan, tidak jujur dan selalu berkeringat. hmmm.. apes juga yah si A beli kucing dalam karung.

Jadi saat dia menemukan si Y si A merasa hidupnya berbunga lagi. Tapi si Y belum tau kalau si A menaruh rasa kedia. Si Y mah anteng-anteng aja, dia pikir si A lagi bahagia-bahagiannya dengan suaminya yang lagi kena kasus penipuan di kantor tempatnya bekerja. Lah, kok si Y tau yah? Ya ia ialah si Y teman sekantornya si suami. Jadi hidup ternyata hanya selebar daun talas…

Belum lagi si B yang merasa putus asa, mulai dari masalah percintaan hingga perkerjaan. Mumet nih kepalannya! Sudah usia diujung tanduk tapi dia belum merasa tenang dengan hidupnya.Si B punya kelebihan (bukan hanya kelebihan berat badan tapi dia punya ide-ide bombastis), tapi realisasinya masih menunggu waiting list yang cukup panjang lantaran untuk menata waktu dan tanggalnya masih belingsatan. Selain itu program-program sejahtera dan sosialnya masih terbentur modal yang cukup besaaaaaaarr banget sampai-sampai dihitung pake jari aja nggak cukup.

Tapi si B punya jurus jitu, dia nggak akan pernah menyerah walaupun hidup sudah diujung batas. Kalau sudah begini harus bagaimana lagi?. Tapi bagusnya di B dia selalu memikirkan kelangsungan hidup keluargannya, prioritasnya nih dia ingin membahagiakan orang tuannya yang tinggal satu-satunya. Biasa bapaknya ini sudah nggak bisa kerja karena lanjut usia. Jadi selain memikirkan proyek sosial yang menjadi cita-citannya, penghasilannya yang sedari dulu dikumpulin habis untuk ngebantu benerin genteng rumah, buat kamar bokap, benerin WC yang sudah buntu sama ke bengkel memperbaiki motor yang sudah tua biar bisa beroperasi lagi. Puihhhhhhhhhhhh…kasihan juga yah nasib si B jadi putus asa.

Nah lain pula cerita si C, sebagai seorang wanita nih si C punya banyak kelebihan, dia memiliki wajah yang mirip banget sama artis sinetron..tuh yang tayang 7 kali seminggu cuma kalau ada berita bencana atau artis ketangkap buat video mesum baru tuh sinetron nggak tayang. Mandiri (mandi sendiri) punya prinsip (tapi nggak jadi hansib) tinggal jauh dari orang tua (gue banget..nggak-nggak becanda). Si C ini punya sifat yang ingin nyenengin dan bantu sekuat tenaga buat keluarganya mulai tante, om, nenek, kakek, ibu, bapak, om Amir, Tante Siti sampai satpan yang jaga kantor tempat dia kerja. Nah, gara-gara punya rasa iba yang cukup tinggi ini, si C kadang-kadang nggak mikirin soal hidupnya, nih coba, untuk beli beras, pulsa, make up,raket tenis, notebook, laptop, mobil dan rumah (ups yang terakhir lebay). Jadinya dia kepikiran dan akhirnya cuma bisa meneteskan air mata sebagai tanda cukup prihatin atas kesulitan yang dialami teman-keluarga disekitarnya. Jadinya dia merasa hidupnya tak berguna!

Gara-gara cerita ketiga sohibku ini, aku sampai-sampai nggak bisa tidur nyenyak soalnya bingung menerjemahkan mana yang harus diberi lebel kebahagian dan kemalangan. Ketiganya punya cerita yang berbeda dan unik. Kalau dilirik sama produser sinetron bisa ngalahin cerita Cinta Siti yang tayang 299 kurang 1 jadi 300 episode.

Aduh…si A datang lagi pasti mau cerita soal si Y ceritanya pasti nggak jauh-jauh mulai dari matanya, kulitnya, cara bicara sampai gaya bercinta..gila nih si A, suami dibiarin aja anteng di rumah. Dia pernah ngeluh setiap beli sabun mandi yang batangan dan cair cepat habis kalau beli hari ini besok sudah tipis. “Dimakan atau digigit yah tuh sabun, gila gue beli habis mulu..makanya sekarang gue stok semua sabun di dapur biar nggak bolak balik kaya gosokan ke supermarket beli sabun mandi nggak pernah absen,” gitu kata si A waktu datang dan curhat soal sabun di rumahnya.

“Hay D, gimana kabarmu duh gue senang nih, si Y tadi perhatian banget dia bawakan gue makan siang yang lezat nggak sabar buat cium bibirnya yang merah merona ntar malam,” kata si A sambil monyongin bibirnya.

Duh si A kumat, dia nggak mikir dia punya suami.Jaman edan, ini pasti jaman sudah edan!. Belum lagi habis obrolan dengan si A, tiba-tiba si B datang dengan wajah cemberutnya seperti dompet tinggal bulan. “Gimana proyek mau jalan, harga sewa rumah mahal banget, belum lagi nih, biaya operasional bayar listrik, air , telepon, modem, sampai pulsa. Proyek sosial ini sangat idealis, keuntungannya bukan untuk aku, tapi buat kalian. Ia kalian para wanita karena proyek ini memang untuk kalian yang merasa tertindas dan mendapat kekerasan dalam rumah tangga!,” ujar si B dengan berapi-api berkampanye sambil mengacung-ngacungkan telunjuknya.MERDEKA

Aduh..duh..aduh..bisa gila, punya dua teman yang sudah nggak waras.Butuh udara segar nih.Tolong-tolong. Bruk…si C tiba-tiba datang dengan mata merah dan sembab. Air matanya saja masih nanggung di pipi belum jatuh meluncur mengenai dagu.”Hiks..hiks..crottttttttttt…crottttttttt,” suara tangis si C sambil mengeluarkan cairan ingus di hidungnya,” tiba-tiba ruangan yang kami tempati menjadi sunyi dan senyap. “Bibiku mau dioperasi dan aku nggak bisa bantu, nggak berguna-nggak berguna aku ini,” keluh si C sambil memukul-mukul tangannya ke dada.

Cape deh..kasihan sih melihat kondisi C..tapi mau gimana lagi, dia seharusnya tidak lebay dan mendramatisir.

Teman-temanku yang manis dan cantik tak tertandingi dengerin aku yah. Sekali aja… tolong. Ok tenang-tenang.

Si A ini buat loe. Loe itu sudah punya suami dan si Y itu belum tau perasaan yang loe kasih ke dia. Kalau loe memang ingin miliki si Y mending loe segera urus perceraian loe sama suami loe yang berkeringat dan suka ngabisin sabun mandi loe. Jadi loe nggak berdosa dan punya lembaran baru untuk loe ukir dengan si Y. Satu lagi pastiiin si Y juga nggak over keringatan. Kan nggak seru kalau loe cerita untuk kesekian kalinya ada cowok yang punya keringat seperti air hujan.

Dan buat Si B, aku yakin kamu itu bisa mewujudkan proyek sosialmu, tapi jangan maksa kalau kamu belum punya modal. Yang pasti berdoa semoga urusanmu diperlancar dan nabung dulu sebentar pasti modal yang kamu harapkan pasti kesampaian. Aku mendukungmu kok dan mau membantumu untuk proyek idealismu. Tumbs Up

C Sayang..aku sangat prihatin liat kondisimu..kamu itu baik banget selalu mikirin kondisi orang lain. Tapi kalau kamu memang nggak bisa bantu dengan duit ya doa mudah-mudahan orang-orang yang memiliki kemalangan diberikan kesembuhan dan dijauhkan dari kemalangan.

Lampu sorot kemudian semakin terang riuh mengiringi ditutupnya tirai lebar berwarna merah menutupi panggung. Tepukan tangan membahana di ruangan hampir seluas lapangan bulu tangkis. Alunan musik dari dentungan tust piono how deep is your love, emotions hingga just for you mengalir dan menyentuh para penonton yang sedari tadi menyaksikan drama satu babak .

1 menit kemudian tirai kembali dibuka Adiniya Budhi Chairil pemain tunggal dalam drama tiga babak keluar dengan gaun warna merah marum sambil melambaikan tangan sambil layar ditutup kembali. …

Ayah?

Hidup aku ibaratkan sebuah novel yang di dalamnya terdapat episode-episode yang pernah dijalani. Episode pertama tentunya tertulis bagaimana aku yang keluar dari rahim seorang ibu melalui proses senggama terlebih dulu menunggu waktu 9 bulan lebih dikit untuk dikeluarkan melalui kelamin wanita. Tanpa operasi aku di keluarkan dengan paksa ditendang tanpa kaki melainkan dengan erangan nafas yang ditarik dalam- dalam dengan aba-aba sang bidan. Keringat bercucuran menetes dari kening ibuku nafasnya terengah-engah lebih dasyat dari pada erangannya saat menikmati malam pertama dengan ayah.

Aku diselimuti dengan baluran kain putih yang sisinya masih terdapat bercak darah dari ibu. Lalu setelah mengeluarkanku dengan paksa, ibu yang menggunakan daster warna putih itu tak sadarkan kemudian tidak kembali lagi. Aku hanya bisa merasakan kehangatannya saat ia membelai perutnya yang membucit saat aku masih dikandungan. Saat itu ia tertawa geli merasakan aku memutar tubuhku dari sisi perutnya, kadang aku meninju bagian sampingnya hingga perutnya terlihat benjolan. Ayah kadang sedikit egois saat aku masih dikandungan aku merasakan ibu dipaksa melayaninnya setiap malam usai mulutnya berbau aroma tape singkong yang busuk. Tapi kupikir aku juga egois ingin hidup di dunia tapi mengorbankan jiwannya.

Episode pertama tersimpan dan tercetak jelas mengisi novelku yang baru saja dietaskan tanpa seorang ibu dan ayah yang kecewa anak yang dinantikan berkelamin perempuan yang sudah melenyapkan pelayan pengobat birahinya lenyap.

Diepisode kedua, ayah menunjukan rasa sayangnya padaku dia memberikanku kehangatan seorang ibu. Ibu yang selama ini aku nantikan untuk bisa memandikan tubuhku yang tak sampai menciduk air di bak mandi dengan gayung, menyuapiku dengan lembut tanpa mengenai gigiku, menyelimuti tubuhku agar tidak tergigit nyamuk. Tapi kehangatan itu hanya ayah yang mendapatkannya. Ibuku yang baru selalu mandi bersama dengan ayah, menyuapi dengan mesra dan menghangatkan tubuhnya setiap malam.

Dan aku hanya bisa menangis untuk dicubit dan dilempar lisptik. Disaat usiaku menginjak 4 tahun ibu baru memberikanku seorang adik yang lucu berkelamin laki-laki.Kali ini ayah sangat senang ia membelikan tempat tidur baru, beragam mainan ada mobil-mobilan, pesawat dengan remote control, balon, kereta api hingga pistol-pistolan dan aku hanya diberikan pembungkusnya saja tak boleh memegang atau meraihnya untuk dimainkan.

Adik lucu begitu aku sering memangilnya. “Ayah, adik boleh bermain denganku?” kataku mengiba saat adik mendekatiku sambil merangkak.

Ayah hanya diam. Dia sepertinya tidak mendengar ucapku padahal aku sudah menarik kemeja biru yang dikenakannya. “Ibu, adik boleh bermain bersamaku?”Ibu yang sedari tadi hanya menebalkan lipstik di bibirnya hanya diam duduk bersilang kaki dengan tangan kanan memegang lisptik dan tangan kiri memegang cermin.

Tanpa persetujuan ayah dan ibu aku tidak berani untuk meraih lengan adik lucu dan mengemaskan. Ia memakan apa saja yang dilihatnya. Contohnya kotak bekas susu pernah ia cabik-cabik tapi saat ibu baru melihatnya ia menjerit kesetanan. “Astaga nak, jangan di makan itu, ayo keluarkan, jorok cepat keluarkan, Ayah..yah si ade makan kotak, cepat yah, gimana ini aduh-aduh, ayo de,keluarkan sisa kotaknya,” seru ibu yang saat itu hanya menggunakan handuk di dada.

“Setan, kenapa kamu tidak melarang adikmu makan kotak, kan sudah ibu bilang jaga adikmu kalau ayah sama ibu lagi di kamar. Dasar anak nakal,masuk ke kamarmu sekarang!,” perintah ibu baru sambil membelalakan matanya kepadaku.

Gara-gara adik lucu makan kotak, aku jadi tidak makan malam. …..

Diepisode ketiga disaat usiaku 12 tahun dengan kategori remaja. Aku hanya duduk di teras rumah melihat anak-anak berjalan bergerombolan. Pakaian mereka seragam atasan warna putih dan bawahan biru yang perempuan menggunakan tas menyelempang ke bagian tubuh kiri dan prianya menggunakan tas di punggung mereka tertawa bahagia.

Aku hanya melihat mereka dari kejauhan hingga hilang dari pandangan. “CEPAT MASUK ngapain kamu di luar, bikin malu saja, cepat masuk,” teriak ibu baru dari dalam rumah. Aku sangat penurut, mungkin ibu baru begitu memiliki perhatian yang besar kepadaku, angin luar tidak baik untuk kesehatan dan angin di dalam rumah begitu sehat sehingga aku bebas menempati tempat-tempat yang aku suka. Tapi kadang ibu baru dan ayah juga tidak memperbolehkan aku menghirup udara di ruang tamu saat sahabat-sahabat tetangga datang berkunjung.

Perkiraanku novel yang aku buat begitu panjang dengan isi puluhan hingga ratusan episode tapi nyatanya aku hanya bisa mengisinya hingga episode ketiga. Yah hanya sampai disitu apalagi saat ayah masuk ke dalam kamarku yang jarang sekali mendapat kunjungannya. “Anak setan, gara-gara ngelahirin kamu, Mitha meninggal, nggak tau diri sudah di lahirkan masih saja buat sial, anak setan,” kata ayah dengan wajah merah, nafasnya bau seperti bau air tape, jalannya sempoyongan menghampiriku dan menjambak rambutku dan menghempaskannya ke tembok dekat ranjang.

Aku takut, aku menangis dan menjerit kesakitan. Tapi ayah tidak perduli, ia terus menjambak dan menghantamkan kepalaku pada tembok. Kemudian setelah darah segar mengalir pelan dari pelipisku yang robek ayah baru melepaskan tangannya dari kepalaku. Lalu dia menangis menjerit dengan kencang. “AKU BUKAN AYAHMU!”

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.