Selama beberapa hari, saya terlibat dengan organisasi tunanetra. Awalnya, saya tidak tahu mereka dilibatkan. Workshop Komnas HAM kupikir hanya terkait masalah penculikan, pembunuhan, atau ketidakadilan. Ternyata mereka memang terkait juga, karena ada kecendrungan mereka tak mendapat porsi tepat dalam pelayanan pemerintah karena dianggap tak memberikan kontribusi pada negara, hanya beban dan dianggap sebagai orang yang sakit. Maka saya pun ngeh dengan hadirnya mereka.
Dari situ, saya mengenal seorang bernama Rhm. Agak sok anaknya. Kalau orang kalimantan bilang pembualan, waluh. Hahahahaha, agak lama saya baru sadar kalau ternyata dia buta (Bola matanya yang hitam masih bergerak searah ketika dia menatap seseorang, makanya kupikir dia seperti teman yang lain, bukan tunanetra). Saat rapat dia ngomong banyak tentang kedekatannya dengan sejumlah tokoh dan pejabat tinggi di Makassar. Dia juga cerita mengenal banyak wartawan. Kelihatannya dia juga menganggap saya anak baru yang tak kenal apapun.
Saya memberi kesempatan untuk tak langsung apriori pada dia, mengingat keterbatasannya. Mungkin dia hanya mau bilang, hei aku ada di dunia ini. Biasa eksistensi diri. Okelah. Dia bilang beruntung menjadi tunanetra pada usia 14 tahun (kini usianya 28 tahun), paling tidak banyak hal yang bisa dia jumpai, berorganisasi di Pertuni membuatnya dengan mudah dekat Walikota. Sepertinya memang dia bangga dengan pencapaiannya selama ini, walaupun memiliki keterbatasan indera penglihatan, dia mampu mengeksplorasi diri. Saya sih tak peduli dengan semua hal yang dia umbar itu, hanya saja saya agak terganggu dengan ambisinya yang pada akhirnya terkesan melecehkan orang (dalam psikologi, kerap orang yang sering dilecehkan punya kecendrungan melecehkan orang lain, agar orang lain punya kesakitan yang sama dengan yang dialaminya…ingat ospek?)
Karena menganggap saya orang baru dan tak punya posisi apapun di dunia pers di Makassar, maka ketika saya memberikan nomor telepon sejumlah wartawan yang hanya saya kenal baik, dia bilang wah saya masih harus ke kantor AJI nih, nomor kontak wartawannya masih kurang. Halah, dalam hati kubilang itu sudah cukup kok, mewakili wartawan yang ada di Makassar.Tapi sudahlah…silahkan saja. Kemudian dia mulai membual lagi dengan segala pencapaiannya. Saya bilang, segala kehebatan itu tak penting, yang penting ketika kamu kehilangan satu indera, kamu diberi kelebihan lain berupa kepekaan lain. Misalnya kamu lebih peka merasakan dan mendengarkan. Dia sangat peka posisi saya duduk tepat berada di mana.
Tapi setelah beberapa hari ini mengenalnya dan orang-orang di seputaran lingkungan bergaulnya, saya tersadar banyak hal. Dia juga butuh dianggap eksis. Namun terlebih adalah dia kesepian. Sayangnya dia tak humble. Saya agak takut berteman dengan dia. Buatku, saya hanya perlu kenal sepintas saja, setelah itu tak perlu lagi terlibat lebih jauh.
Anyway, saya juga memperhatikan beberapa perempuan yang terlibat dengan para tunanetra. Tak jelas apakah mereka relawan atau kerabat para tunanetra. Saya tak sempat tanyakan. Sepertinya mereka nyaman berada di sekitar tunanetra itu. Kebanyakan tunanetra adalah lelaki. Kalau jujur, meski sangat relatif, perempuan ini kebanyakan memang tak cantik. Seperti istri salah satu tokoh pertuni. Sempat dengar cerita tentang proses lamarannya yang mengalami tentangan keluarga, namun akhirnya bisa bersatu juga. Mungkin memang perempuan tak mempersoalkan secakep apa pasangannya, senormal apa pasangannya, asalkan mencintai mereka tanpa melihat fisik, perempuan akan menerima lelaki itu seabnormal apapun dia. Perempuan di seputaran tunanetra ini merasa nyaman tak perlu berdandan, tak perlu modis, tak perlu cantik, tak perlu sesempurna model untuk bisa dicintai seseorang.
buta
Desember 2, 2010 oleh lajangbahagia