Untuk sebuah urusan saya kembali ke Kalimantan Timur. Setelah semua selesai, singgahlah saya di salah satu kota di Kaltim, Balikpapan, menunggu hingga balik lagi ke Makassar. Di kota minyak itu, saya menjadi tamu temanku yang kebetulan sudah menikah. Kami adalah sahabat. Dia dulunya jurnalis di sebuah media elektronik. Kami adalah partner yang kuat ketika bersama meliput. Isu-isu yang kami tampilkan selalu leading. Kami yang awalnya diremehkan sejumlah jurnalis, mulai ketakutan dan akhirnya merapat ke kami.
Waktu itu kami hanya menertawai mereka, meski tetap menerima. Yah, kami kan memang bukan mencari musuh, hanya ingin bekerja dan bisa membeli kesenangan. Dia perempuan yang cukup tangguh, walaupun secara fisik terlihat rapuh. Tapi jangan salah, dia punya pandangan yang kuat terhadap persoalan hidup. Kami adalah tim yang hebat. Dan dia kerap merindukan saat-saat itu. Begitupun saya.
Di rumahnya saya menginap beberapa malam. Setiap hari seorang sahabat yang juga tim kami ketika itu, kerap mengunjungiku usai deadline di kantornya. Kami kembali curhat-curhatan. Terutama mengobrol tentang langkah ke depan dan soal mendapatkan pasangan. Hehehe biasa, curhatan para lajang. Dia juga nimbrung. Lalu memberi komentar, bukan petuah atau nasehat, karena dia bukan tipikal perempuan bersuami yang sok mengajari kami tentang memilih suami.
Agak terhenyak saya dengan komentarnya, meski sangat tahu dan jelas latar belakang pilihannya untuk menikah dengan suaminya. Dia bilang, hingga saat ini dia masih belajar mencintai suaminya, tapi meskipun kondisi perasaannya seperti itu dia bahagia dengan semua pilihannya. Ia tak mau memilih lelaki yang sangat dicintainya (yang sebenarnya juga mencintai dia). Ia mengaku capek menghadapi segala tetek bengek urusan dengan lelaki yang sangat dia cintai. Pertama, dia menunggu lama, kedua dia harus berkompromi untuk bersama keluarga lelaki itu, selebihnya dia harus menghadapi keluarga pacarnya yang menengah ke atas, perbedaan sosial, hingga ketakutan kehilangan lelaki itu.
Dengan suaminya, ia bisa menjadi dirinya sendiri, memahami keluarganya, mengerti perasaannya, tak terlalu menuntut, dan di atas semua itu sangat mencintainya. “lia, kalau dengan lelaki yang sangat kita cintai, dia akan memperlakukan kita semena-mena, cuek, saya tidak bisa bergaul lagi dengan kalian, dan harus menjadi ibu rumah tangga yang benar-benar melayani dia. Saya mungkin bisa melakukannya karena cinta. Tapi ketika kita menikah, banyak hal akan mengubah itu. Bukan hanya tuntutan menjadi ibu atau istri, tetapi kita tentu ingin dimengerti dan didengarkan perasaan-perasaan kita. Bersama suamiku saya bebas mengutarakan segala yang menjadi pikiranku,” katanya.Ia pun menegaskan, kalau memilih suami disarankan yang benar-benar mencintai kami.
Saya melihat banyak perempuan yang melakukan hal yang sama seperti temanku itu. Meski ada seseorang yang sangat dia cintai, dia akhirnya memilih hengkang dari lelaki yang dicintainya.Berkompromi dengan dunia untuk memilih lelaki yang sangat mencintainya, karena yakin suatu saat ia akan bisa mencintainya.Kalaupun tidak, ia bisa belajar terus menerus mencintai lelaki yang sangat mencintainya. Menurutku itu memang benar. Banyak perempuan bilang ya dirinya menikah karena merupakan pilihannya, SALING MENCINTAI. Menurutku tidak, itu hasil kompromi deh. Dia berkompromi karena lelaki yang dia cintai tak mencintainya, akhirnya memilih lelaki yang memilihnya, lalu kemudian mengatakan inilah lelaki yang dia cintai. Saya melihat perempuan mudah jatuh cinta bila dia mendapat perhatian, dimengerti, sering bersama, dan nyambung.
Tapi buat saya sendiri, perasaan memang hal yang sangat kompleks. Karena kompleksnya, apa yang dia katakan temanku dan kemudian kusetujui, bisa jadi bukan pula hal yang mutlak. Akan banyak variannya. Karena itu, banyak yang bilang biarlah seperti air yang mengalir. Jangan jatuh cinta terlalu dalam, jangan mematok terlalu rigid, jangan jangan jangan. Ya, tentang hal ini memang saya harus menyepakati Mayong Suryolaksono, saya ingin hidup seperti air yang mengalir. Artinya sesuai apa yang sudah jadi takdirku. setelah sekian lama saya berusaha, bekerja dan ingin mencapai sesuatu, namun pada akhirnya bermuara pada sesuatu yang diinginkan Tuhan. Ya sudah, syukuri saja, paling tidak kita sudah berusaha. Kita tak stres dan bisa bahagia. Apapun itu, silahkan takdirkan untuk saya. APAPUN ITU.
kompromi
Desember 2, 2010 oleh lajangbahagia