Melelahkan menjawab satu per satu pertanyaan teman kapan menikah, kapan menikah. Inilah yang terjadi setiap menghadiri pernikahan teman. Yang terakhir kudatangi pernikahan sahabatku. Sebab kami memiliki teman dan komunitas yang sama semasa kuliah, maka kebanyakan yang datang juga adalah yang sangat kukenal. Tentunya, pertanyaan itupun yang jadi santapanku berhadapan dengan mereka. Hehehe. Saya cuma bilang saya menikah bulan 12 tapi tolong bawakan pengantin prianya. Dan mereka tertawa, sepertinya bahagia dengan jawabanku. hahahahah
Saya ingin bercerita tentang kami berlima. Semasa kuliah, kami bersahabat lima orang. Hingga 10 tahun usai kuliah, kami masih tetap menjalin persahabatan. Dua di antaranya cukup cepat menikah. Tia bahkan usai KKN sudah menikah, sedangkan Warda setahun menjadi sarjana memutuskan menerima perjodohan yang diatur kakaknya.
Tinggallah kami bertiga. Saya, alang dan ana. Alang yang bermukim di ujung Kaltim, Nunukan, cukup lama memutuskan menikah setelah sekian lama putus dengan pacar semasa kuliahnya. Dia cukup sedih kurasa dengan putusnya hubungan mereka. Sehingga hingga 12 tahun sejak mereka putus, ia belum juga menemukan orang yang cocok. Hingga akhirnya setahun lalu dia bertemu dengan Ismail dan memutuskan mengakhiri masa lajangnya. Mereka beda umur empat tahun. Brondong katanya hehehe. Entahlah Alang tak cukup banyak bercerita kenapa dia memilih Ismail. Hampir kebanyakan perempuan ketika berumur 30 tahun mulai was-was. Dan ketika ia memutuskan menerima Ismail, umur Alang sudah 31 tahun. Ehmmm
Saat menghadiri pernikahan Alang, saya dan Ana bilang siapa di antara kami yang lebih dulu menikah. Kujawab, pasti kamu ana. Saat itu dia juga agak meragu, meski punya pasangan yang sudah lama ia pacari, dia masih tak yakin. Ini karena mereka tengah vakum dan memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Meski dia bilang siapa yang tahu, bisa jadi saya lebih dulu, toh dalam hati saya juga tak yakin. Mengingat saya tak mudah cocok dengan pria akibat ideologi yg kuanut.
Tapi di sinilah kami di pesta pernikahannya bersama pacar 14 tahunnya. Dan sayapun jadi bahan perbincangan yang menarik. Hahahahaha. Yah, banyak sih hal yang menyakitkan. Tapi itulah konsekuensi hidup di dunia yang menganggap pernikahan adalah hal yang penting. Capek aja bilang gw bakal menikah kalau menemukan orang yang cocok (pernikahan bukan soal umur, tapi tentang menemukan orang yang cocok). Plis deh. Jadinya gw hanya bisa tersenyum kecut doang. Dan berharap pesta ini segera berakhir. Hahahaha maaf ana.
Herannya, saya tak juga merasa khawatir, tak merasa takut, tak merasa harus cepat menikah. Memang sih, sedih banget ana menikah, karena tahu bakal gak ada lagi temanku yang punya masalah yang sama: didesak menikah. Kalau soal dia akan memilih suaminya ketika saya butuh dia, ya emang dari dulu begitu juga. Saya curhat ketika dia tak punya masalah. Tapi kebanyakan memang semua sahabatku yang curhat sama saya.
So, saya selalu menganggap tak akan pernah kehilangan mereka meskipun mereka sudah menikah. Malahan mereka kadang yang suka mencari saya, ingin bercerita macam-macam. Sebab saya bukan tipikal perempuan yang sepi kerjaan, hidupku selalu dipenuhi banyak hal. Menemukan banyak teman-teman baru. So, kalau dianggap gw bakal kesepian, gak pernah tuh. Emang sih ada saat kita merasa kesepian tapi itu hal yang lumrah, siapa bisa menjamin ketika menikah kita juga tak kesepian. Kesepian kan adalah masalah rasa di dalam diri, bukan tentang keadaan yang ramai.
Nah, inilah yang kadang bikin heran sendiri dengan diriku. Gw terlalu kuat menghadapi persoalan apapun. Mungkin juga karena saya merasa tak ada lelaki di dunia ini yang punya perspektif feminis, egalitarian, sehingga tak membuat saya ingin cepat-cepat bersama pria dan menghabiskan seluruh hidupku bersama pria. Setiap kali menganggap cowok ini cakep, atau cerdas, atau baik, tapi pada saat yang sama saya beranggapan dia tak bisa memahami ideologi feminis yang melekat sangat kuat dalam pikiranku bahkan tindakan.
Kata temanku, saya cocok menikah dengan bule. Tapi saya tidak sepakat dengan kebebasan seks yang mereka anut, agama kami berbeda, nilai-nilai ketimuran yang masih penting buat saya (beberapa hal). Pada akhirnya, saya hanya bisa tersenyum (kecut dihadapan merka). Plis deh, saya hanya mau merasa tenang dengan semua hal yang kuyakini. Tak peduli dengan pikiran setiap orang. Tapi setiap kali ditanya, membuat saya kelelahan saja.