Saya mengenal dengan baik dua perempuan ini. Mereka lucu, cerdas, dan dari semuanya mereka perempuan yang optimis. Saya selalu iri dengan rasa optimisme mereka. Terutama dalam mengejar cinta. Tak heran, mereka benar-benar yakin cinta akan datang menemui mereka jika tetap berharap dan tak lupa berusaha keras. Ehmmm, sangat berbeda dengan saya yang apatis.
Saya mengagumi kegigihan mereka untuk mendekati cinta mereka. Mereka memilih dan melangkah lebih dahulu jika menyukai seseorang. Saya selalu tak berani. Hanya menatap atau berharap bertemu. Tak berani bicara jika ketemu. Selalu saja ada campur tangan teman jika bertemu dengan orang yang kusukai. Tak pernah berani memberi sinyal, jika tanpa dorongan teman-teman.
Tapi mereka, selalu punya inisiatif dan ide untuk bertemu lebih dulu. Mengirimi SMS untuk alasan yang berbeda-beda, membawakan makanan, buku, dan hadiah di hari ulangtahunnya. Bahkan, menyatakan perasaan mereka lebih dulu. God, saya hanya berani menatap dan melihatnya berbicara dengan orang lain. Mereka berani menerima penolakan. Hebat.
Perempuan satu ini adalah teman semasa kuliah dan kemudian menjadi sahabat di masa-masa kami mulai meniti karir. Ia yang mendorong saya untuk kuliah lagi dan banyak motivasi lainnya. Ia menjalani hubungan emosional dengan beberapa lelaki. Selalu kandas entah karena jarak maupun prinsip yang tak klik. Tapi tetap saja mampu menjalani hubungan selanjutnya. Terakhir, ia menyukai seseorang, kebetulan adalah sahabat temannya. Ia melangkah lebih dulu dengan menyatakan perasaannya. Ia menceritakan pada saya mengenai respon si cowok itu yang hanya tertawa dan kemudian bilang, “is it true?”
Namun belakangan ia mulai terdengar gamang. Melalui sms dia bertanya padaku, “Li, jika seorag laki2 tidak ingin ditahu tentang dirinya lebih banyak lagi, apa itu berarti dia tidak ingin serius dengan kita? saya jawab IA. Itu sebuah pertanda. segera setelah beberapa sms kami yang berbalas2an, datang sebuah sms keputusan. “jangan menghabiskan banyak waktumu pada seseorang yang di masa depan tak akan membuatmu bahagia.” Lalu ia mengutip lagu teranyar Astrid. “Karena hatiku tak akan kuberi, pada kekasih yg tidak baik hati. jadi daripada aku mengharap kesungguhannmu aku lebih memilih pergi dan cari penggantimu.”
Ia putuskan tak akan mendekati si cowok itu lagi. No hp bahkan ia hapus dan tak ingin menghapalnya. Tapi saya tahu, kendati memutuskan secara emosional tak akan melihat segala hal tentang lelaki itu, tetap saja ada kerinduan yg sulit lepas. we need more powerfull words to forget everything bout him. hell yeahhhh….Tapi saya yakin seperti lagu Astrid itu, ia tak menutup peluang lelaki lain untuk masuk ke relung hatinya….ehmmmm i think you just likes gigi, dia percaya dan yakin dan terus berupaya akan menemukan cinta sejatinya…saya berdoa untukmu sobat.
Sementara teman yang satu lagi masih terlihat hangat-hangatnya mendekati seorang cowok yang cukup kukenal baik. Ia seperti temanku yang kuceritakan tadi, optimis dan berusaha. Ia tahu lelaki itu sangat menyukai buku, maka buku adalah hadiah yang paling sering ia berikan selain kue. Saya selalu menjadi orang yang harus menemaninya membawakan hadiah-hadiah itu. Entahlah, mungkin lelaki ini sudah mulai luluh. Tetapi ia seperti lelaki yg sangat kusukai, belum siap dengan hubungan serius. Sebabnya, masih banyak urusan keluarga yg belum selesai ia rampungkan. poor my friend, poor me!
Saya sendiri sangat yakin dengan bahasa tubuh, sangat yakin dengan pertanda, dan sangat yakin dengan gejala. Untuk mengetahui itu, saya selalu merujuk sama film He’s Just Not That In To You. “Kalau dia tak nyamperin kamu duluan, itu tanda kalau dia anggap kamu bukan siapa-siapa,” ucap aktor Justin Long kepada karakter perempuan dalam film bernama Gigi. Semua tanda itu sangat jelas kubaca pada kasus dua temanku termasuk saya sendiri. Jadi sobat, ingatlah pesan Justin Long, kalo dia tak nyamperin kamu duluan, sudahlah, forget him, find someone else! (seraya berharap kalimat terakhir yg kutulis itu merupakan sugesti yg sangat kuat buat saya…..God HELP ME!!!!!)