Arsip | November, 2011

28 Nov

Beberapa hari ini saya tertawa terus setiap kali mengingat perkataan temanku. Ia adalah teman se-gengku semasa menjadi wartawan. Sabtu malam lalu ia tiba di Samarinda bersama teman yg juga menetap di Balikpapan. Ia datang untuk sebuah liputan tentang ambrolnya jembatan Parikesit Kutai Kartanegara. Kutai Kartanegara salah satu wilayah Kaltim yang terkaya dan berada sekitar 50 km dari Samarinda. Di tengah kelimpungannya menulis hasil reportase, ia teriak kepada saya, “lia karena di antara teman-teman hanya kita berdua yg belum menikah, ayuk kita menikah saja,” kata dia tertawa ngakak. Lalu teman-teman ikut nyeletuk, “ia tuh kalian kan sudah sama-sama s2 dan masih single.” Logika ini aneh juga ya : s2 dan single.

Saya sih hanya tersenyum kecut. Malam minggu, gak ada pacar, terus diolokin teman-teman. Yang menelpon saya pas malam minggu hanya satu cowok. Ia teman kerja. Lajang sih, tapi tahu gak alasan dia menelponku hanya ingin menceritakan soal kejadian runtuhnya jembatan berjuluk Golden Gate Kukar ini. Ia juga menyarankan agar mewawancarai narasumber yg melihat langsung kejadian. Lah, aku neh udah gak melakoni pekerjaan wartawan lagi. Tapi demi berbaik-baik, soalnya dia yg menolong saya ketika baru menjadi dosen, maka kuminta nomor hp narasumber itu dan menyerahkan ke temanku yg lagi nulis berita.

Soal ajakan itu memang kutanggapi biasa saja dan menganggap sebagai hal yang lucu. Bisa jadi temanku ini hanya stres sehingga butuh pengalihan. Biasa, berita besar harus melibatkan banyak narasumber. Tuntutan biasa juga lebih besar karena harus menulis beberapa angle. Alhasil, buat lucu-lucuan dia ajaklah saya menikah. Efek liputan, teman-teman pada ceritain soal anak, menjadi formulasi ajakan dia malam itu. Tapi seharusnya saya yang harus curhat malam itu, tapi anehnya di antara kerubutan lelaki ini aku yg jadi sasaran tempat sampah. Mulai soal istri, anak, hingga mantan pacar yg masih terus menggoda. Halah, dasar.

Soal ajakan itu, memang hanya aksi lucu-lucuan saja. Tapi sebenernya kalau kutanggapi serius, saya yakin itu bisa jadi serius. Kami sama-sama perantau, sebenarnya cocok dalam obrolan, dan juga satu suku. Dimana dalam proses apapun terkait kultur dan kebiasaan menikah akan lebih mudah. Tapi tahulah saya, dengan pikiranku yg begitu kompleks, semua hal jadi rumit. Seharusnya saya berpikir sederhana, usia sudah sangat matang (kalau ditanggapi sama alang udah buccuk), kami sama-sama memiliki pekerjaan dengan latarbelakang yang sama, hayo apa lagi yg jadi alasan untuk tidak merealisasikan. Cinta. Halah omong kosong. Cinta hanya ada dalam dongeng kata GM. Lantas? he is not my type. Yaahhhh kembali lagi.

Mengutip kata teman dalam tulisannya, “tak ada yg membuatku bergetar.” ehmmmm ya, i dont have chemistry with him. Tapi memang beberapa lelaki yg dekati saya tak ada yg pernah membuat saya bergetar. Tapi hanya ada satu lelaki yg kerap membuat saya berdebar kencang, meski belakangan ini sudah mulai meredup. Akhir2 ini hadir seorang cinta platonik. Dalam defenisi prof Tommy F Awuy: tak ada keterlibatan fisik, hanya diketahui oleh satu pihak. Ini pola yang terus menerus berlangsung pada diri saya. Kalau ada yg menyukai saya, pasti saya tak suka. Malah menyukai orang yg tak suka saya. Halahhhhh, mana bisa jadian.

Terpikir dalam benakku, jika ada perempuan yg punya kondisi seperti saya, saya yakin pilihannya adalah menerima ajakan orang yg sudah dikenalnya. Meski tak punya perasaan apapun. Menikah karena kondisi sosial menuntut. Atau kusebut nikah sosial. Pada akhirnya toh akan ada rasa juga kalau bukan jadi kebiasaan bisa jadi sindrom. Misalnya sindrom Stockhlom. Sindrom ini memiliki karakter setia pada penyanderanya. Nah, menikah tanpaa cinta dengan alasan sosial kita samakan saja sebagai sandera. Lama kelamaan seperti Carol Smith yg akhirnya menaruh rasa sayang kepada penyandernya. Ahhhhh entahlah hhihihi. Atau malah terus2an terjadi sindrom lima, dicintai terus menerus oleh penyandera halah.

Tapi sudahlah….Met malam gw besok ngajar….

sedih

28 Nov

Kesedihan memang sangat subyektif, maka itu ketika kamu sedih sebaiknya tak memperlihatkan secara terbuka. Jangan pula berharap orang dekatmu berempati, karena tak semua orang mengerti kesedihanmu. Tersenyumlah seolah tak ada persoalan yg kamu hadapi.

Saya belajar untuk terus menerus mengakarkan pikiran ini dalam benakku. Berusaha sedapat mungkin mencari cara bahwa kesedihanku tak lebih menyakitkan dari orang lain. Mungkin benar petuah orang tua bahwa jangan pernah melihat ke atas. Oke mungkin itu tak sama, tapi buatku makna petuah ini sedikit banyak bisa diadopsi dalam hal kesedihan. Kesedihan sama dengan strata—melihat ke atas atau ke bawah. Kalau terus melihat orang lain dengan persepsi mereka bahagia, maka kita akan terus berpikir sebagai orang yang menyedihkan. Saya pikir ini bisa membuat kita terjerembab, bisa juga mendapatkan hikmah. Beuh terlalu sok bijak. Tapi begitulah sebaiknya.

Kerap ketika saya bersedih, saya selalu ingin menjadi pendengar. Mendengarkan kisah-kisah orang lain. Sehingga persepsi saya menganggap mereka tak lebih dari saya. Supaya saya merasa bahwa kesedihan yg jadi milikku tak lebih menyedihkan dari milik orang lain. Saat tahu orang lain memiliki kesedihan yg tingkatnya lebih rumit dari diriku, saat itu saya bisa bernafas lega, toh saya tak sendirian dalam kesedihan. Bahkan, acap melihat kesedihan orang lain lebih parah, sehingga mampu berdamai dengan rasa sedih yg mengendap di hati.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.