Kesedihan memang sangat subyektif, maka itu ketika kamu sedih sebaiknya tak memperlihatkan secara terbuka. Jangan pula berharap orang dekatmu berempati, karena tak semua orang mengerti kesedihanmu. Tersenyumlah seolah tak ada persoalan yg kamu hadapi.
Saya belajar untuk terus menerus mengakarkan pikiran ini dalam benakku. Berusaha sedapat mungkin mencari cara bahwa kesedihanku tak lebih menyakitkan dari orang lain. Mungkin benar petuah orang tua bahwa jangan pernah melihat ke atas. Oke mungkin itu tak sama, tapi buatku makna petuah ini sedikit banyak bisa diadopsi dalam hal kesedihan. Kesedihan sama dengan strata—melihat ke atas atau ke bawah. Kalau terus melihat orang lain dengan persepsi mereka bahagia, maka kita akan terus berpikir sebagai orang yang menyedihkan. Saya pikir ini bisa membuat kita terjerembab, bisa juga mendapatkan hikmah. Beuh terlalu sok bijak. Tapi begitulah sebaiknya.
Kerap ketika saya bersedih, saya selalu ingin menjadi pendengar. Mendengarkan kisah-kisah orang lain. Sehingga persepsi saya menganggap mereka tak lebih dari saya. Supaya saya merasa bahwa kesedihan yg jadi milikku tak lebih menyedihkan dari milik orang lain. Saat tahu orang lain memiliki kesedihan yg tingkatnya lebih rumit dari diriku, saat itu saya bisa bernafas lega, toh saya tak sendirian dalam kesedihan. Bahkan, acap melihat kesedihan orang lain lebih parah, sehingga mampu berdamai dengan rasa sedih yg mengendap di hati.