Archive by Author

Jeni

11 Mei

Gambar

Kerudung putih yang dikenakannya ia usapkan di mata dan hidungnya. Tapi titik-titik bening yang terus menetes di matanya tak juga berhenti. Kusodorkan tisu. Lia, kamu harus mendengarkan ceritaku, kamu juga bisa tulis, biar jadi pelajaran buat kita. Saya mengangguk.

 Telah sebulan saya mendengarkan kisah hidupnya. Ini bermula ketika suaminya, Dirman, mengancam ingin bercerai. Ancaman pertama memang tak terbukti, tapi ancaman kedua Dirman membuktikannya. Ia telah mengepak seluruh barangnya,  pakaian dan perlengkapan kerjanya. Seminggu kemudian, suaminya telah berpindah kota lain dan tentu juga rumah.

 Tak ada yang prinsip dari alasan Dirman ingin bercerai. Ia menyebutkan satu alasan bahwa perasaannya pada mbak Jeni, sudah hilang. Kenapa bisa hilang? Menurut Jeni disebabkan ia tak bisa dekat dengan adik dan ibunya. Dekat disini adalah mengambil hatinya. Ini gara-gara selama sebulan adiknya menetap bersama mereka, Jeni tak tampak bermanis-manis di depan adik Dirman. Begitupun perlakuan Jeni pada Ibu Dirman, dianggap tak bisa akrab. Hanya itu. Padahal pernikahan mereka masih satu tahun. Tahap ini masih menyesuaikan diri, masih perkenalan terhadap sisi diri dan karakter masing-masing, dan membiasakan berkompromi. Tapi menurut Dirman Setahun sudah lebih dari cukup untuk saling mengenal.

 Jeni, tak menyangka, keputusan bulat suaminya hanya dilatarbelakangi ketakdekatan dia pada adik dan ibunya. “Lia saya memang seperti ini ketika baru dikenal. Orang memang mengira saya sombong, padahal saya hanya pendiam,” katanya bercucuran air mata. Keterkejutan Jeni memang sangat wajar. Dari deskripsi dia tentang Dirman di awal perkenalan, Dirman sangat terbuka dengan semua kekurangan Jeni.

 Sebelum berkenalan dengan Dirman, jauh sebelumnya, Jeni telah menikah. Pernikahan pertamanya tak langgeng, ia bercerai. Status yang berbeda dan usia yang berjarak tak membuat Dirman surut. Ia mau berkompromi. Ia rela berdebat dengan ibu dan saudara-saudaranya. Ia mau berjuang untuk Jeni.

##

Pernikahannya dengan Nyoman tak cukup setahun. Mereka berpisah. Pertemuan Jeni dan Nyoman dimulai dengan berkenalan lewat telepon yang salah sambung. Saya ingat, kami masih satu kos ketika ia pertama kali berkenalan dengan Nyoman. Ia katakan pada saya, lia saya akan menikah dengan Nyoman. Kalimat ini ia lontarkan setelah bercerita awal mula pertemuannya. Setelah itu, saya memang tak tahu lagi tentang Jeni. Saya dipindahtugaskan ke Balikpapan. Setahun setelah berkenalan dan hanya mengobrol lewat ponsel, Jeni memutuskan menerima lamaran Nyoman.

 Pertemuan pertama dengan ayah Jeni di Jepara, sang ayah sangat setuju. Umur Jeni ketika Nyoman melamar 34 tahun. Alasan ini yang kuyakini mengapa ayahnya mau menikahkan Jeni dengan Nyoman tanpa tahu dengan jelas latar belakang Nyoman. Jenipun berani meninggalkan pekerjaannya yang mapan di Samarinda. Ia memilih tinggal bersama Nyoman di Jakarta. Nyoman tadinya bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK). Setelah kontraknya berakhir, ia memutuskan berhenti sejenak. Jeni memintanya bekerja di darat saja. Tapi keahlian Nyoman memang hanya sebagai ABK. meski berulangkali mencari pekerjaan tapi ia tak juga bisa dapatkan. Tak ayal, seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi oleh Jeni.

 Namun kesabaran Jeni terus mengikis, Nyoman tak juga berusaha keras mencari kerja. Ia bahkan lebih memilih meminta beras di rumah saudaranya ketimbang menjadi tukang parkir. “Saya malu sekali saat dia bawa beras dari rumah kakaknya. Saya tak malu dia jadi tukang parkir, saya lebih malu kalau dia meminta-minta meski dengan saudara sendiri.” Akhirnya, dia putuskan untuk berpisah sementara. Ia memilih pulang ke kampung halamannya. Dengan uang yang cekak, ia pulang. Tapi ternyata, Nyoman tak juga menyusulnya, bahkan ia memilih bercerai.

 ##

 Pulang ke kampung halaman, penderitaan Jeni tak berhenti. Perceraiannya menyebabkan ayahnya jatuh sakit. Sebagai anak pertama, ia diharapkan sukses, baik rumah tangga maupun pekerjaan. Tetangga menyalahkan dirinya. Ia dituding sakitnya sang ayah diakibatkan perceraiannya. Ia tak tahan. Berbekal uang pinjaman dari sahabatnya, Fera, ia kembali ke Samarinda. Pertama kalinya ia naik kapal dari Jawa ke Kalimantan Timur. Ia bersumpah, tak mau lagi naik kapal kelas ekonomi. Saya hanya tertawa saat ia bercerita soal naik kapal. saya sendiri sudah sering bolak-balik Makassar-Balikpapan via transportasi laut. Lagian murah. Kalau menjelang lebaran harga tiket pesawat gila-gilaan, makanya saya lebih memilih naik kapal. Kalau duit lagi banyak, pesawat jadi transportasi pulang kampung.

 Jeni beruntung, kantor tempat ia bekerja dulu masih menerimanya. Meski hanya sebagai pegawai magang dengan gaji yang sangat rendah. Ia tak punya pilihan lain. Sahabatnya, Fera, yang meminjamkan uang juga sangat bermurah hati. Setiap hari ia memberikan Jeni uang untuk berbelanja makananan. Jeni pula yang memasak. Mereka makan bareng. Ini membantu Jeni mengirit uang hingga ia bisa kembali survive. Fera bekerja di perusahaan konsultan batubara. Ia salah satu manager. Domisilinya di Balikpapan, begitupun keluarga besar dan suaminya. Tapi karena kantor tempatnya bekerja di Samarinda maka ia memilih kosan dan pulang hanya sekali seminggu ke Balikpapan.

 Pernikahannya yang gagal dan masa lalunya dengan tunangan yang pernah mengkhianatinya, membuat ia tak lagi peduli dengan pernikahan. Dua tahun di Samarinda ia berhasil menamatkan kuliahnya. Masa-masa itu, beragam lelaki mendekatinya. Ada yang sudah beristri mengaku jatuh cinta pada dia. Lalu ada yang mengaku lajang tetapi ternyata sudah beristri, padahal sudah berjanji akan menikahi Jeni. “Saat itu saya sangat hati-hati. Benar-benar harus tahu latarbelakang lelaki,” katanya.

 Hingga suatu saat, ia dipertemukan dengan Dirman. Kebetulan waktu itu ia berkunjung ke tempat temannya yang lagi tasmiyah. Dirman yang merupakan tetangga temannya, melihat Jeni dan langsung jatuh cinta. Dirman minta diperkenalkan. Kalau melihat Jeni sekilas siapa saja memang ingin melindunginya. Ia terlihat rapuh, suaranya sangat kecil dan lembut, tapi dibalik itu dia sangat tegas, disiplin, dan keras kepala. Entah kenapa, standarnya yang tinggi tentang lelaki pupus dan kekerashatiannya terhadap lelaki cair ketika bertemu Dirman. Pekerjaan Dirman sebagai mandor dan hanya tamat SMP diterima Jeni dengan penuh cinta.

 Dirman keukeuh mengajak kenalan, rajin mengirim SMS, bila Jeni sakit ia rela libur dari kerjaannya dan membelikan obat. Setelah tahu status Jeni sebagai Jandapun, Dirman terus melaju. Usia yang berbeda 10 tahun juga bukan halangan bagi Dirman. Begitupun ketika Ibunya tak setuju, dengan semangat ‘45 Dirman berjuang. Ia tak peduli status dan perbedaan usia. Ia bersikeras menikah meski ibunya tak setuju.

 Mereka akhirnya menikah. Namun nyaris setahun pernikahan mereka, Dirman menyerah. Alasannya hatinya telah hampa terhadap Jeni. Itu lantaran Jeni tak bisa menarik hati sang bunda dan adiknya. Tapi jika Dirman bijak, seharusnya ia tahu, pendapat ibunya tentang Jeni akan sulit berubah. Sebaik apapun Jeni. Karena sejak awal Ibunya sudah antipati terhadap Jeni. Perlu waktu yang panjjaaaaaannnggg untuk mereka bisa saling memahami. Apalagi ibu Dirman baru sekali berkunjung ke Samarinda. Jarak mereka berjauhan karena si Ibu menetap di Sulawesi. Pertemuanpun baru sekali. Kondisi itu belum bisa menjawab semua konklusi Dirman.

 Tapi, Dirman menyerah di pertengahan perjalanan. Jeni hanya bisa mengurut dada. “Lia tiap malam saya bermimpi, mimpinya sama. Saya tengah berjalan sendiri di sebuah lorong yang gelap. Ruang menjadi terang benderang ketika saya sudah sampai di rumah budeku. Rumah budeku bersebelahan dengan makam desa kami. Saya tidak tahu apakah ini realisasi dari mimpiku,” tuturnya dengan mata yang masih sembab.

 

Pasar Malam

11 Mei

Gambar

Pasar malam di Samarinda artinya adalah berbelanja dengan harga miring. Soal kualitas, itu persoalan nanti. Pada pasar malam ini semua tersedia. Mulai dari bahan2 masakan hingga baju pesta dan barang-barang elektronik.

Pasar Malam ini sebenarnya matamorfosis dari pasar tradisional. Hanya lebih dimodifikasi sedikit. Hadirnya pas malam hari, trus kadang dilengkapi jg dengan hiburan buat anak2 dengan hadirnya odong2, hingga arena bermain semisal mobil2an dan bola2. Kalo pasar tradisional ada clusternya, misalnyanya lapak penjual ikan terpisah dengan lapak penjual sayur atau penjual baju. Nah, di pasar malam semua numplek jadi satu, tanpa adanya pemisahan lapak. Disinilah hebohnya. Karena biasanya Pasar Malam nangkring hanya di gang-gang saja, maka sepanjang gang itulah lapak-lapak berdiri dan berbaur satu sama lain.

Pertama kali  tinggal di Samarinda, tahun 2006, saat ditugaskan di kantor biro Samarinda, untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan pasar malam. Kendati teman yang mengajak jalan ke pasar malam ini adalah anak mal, ternyata segudang informasi ttg pasar malam dia cukup pahami. Mulai dari jadwal hingga gimana menawar barang. Saya pernah wawancara dengan Kadis Pasar, jadi tau rute mereka, tutur temanku ketika itu. Toh, meski sudah tahu pasar malam ketika itu, apalagi berdekatan dengan kosku di jalan Banggeris, pasar malam belum jd prioritasku. Sumpek sih. Saat itu juga belanja-belanji ala mamak2 belum kusukai. Maklum, lebih memilih masakan warteg ketimbang memasak sendiri.

Barulah ketika saya kembali menetap di Samarinda setelah bersekolah di Makassar, pasar malam menjadi pilihan utamaku berbelanja. Dulu, saya tak begitu mau menghapal jadwal-jadwal Pasar Malam. Tapi sekarang, dimanapun Pasar Malam yang radiusnya 500 meter dari tempat tinggalku kuhapal di luar kepala. Sabtu malam, jadwalnya di Karang Paci, bersebelahan dengan kantor DPRD Kaltim, Senin malam, berada di Jalan Ulin. Selasa Malam berada di Banggeris, dekat kosanku dulu. Rabu malam, numplek di dekat rumah sewaanku, di jalan Revolusi. Kamis malam, ngumpul lagi di gang jalan MT Haryono.

Pasar Malam ini, berkah buat saya. Selain sebagai hiburan murah buat cuci mata, duit belanja makanan juga nggak jebol. Bisanya di pasar tradisional, beberapa harga bumbu dapur bisa lebih mahal seribu atau dua ribu rupiah. Di Pasar Malam hanya membawa uang Rp 10.000 saya sudah bisa dapat sayur bayam/kangkung, cabe, bawang merah, bawang putih, ikan asin dan tempe. Semalam saya hanya membawa uang Rp 6.000 sudah kudapatkan tempe, cabe, bawang merah, tomat, dan terasi. “ehm pagi ini rencana buat tempe penyet, mau nyoba resep mamaknya cia, alhamdulillah duit enamribu dah bisa nikmati tempe penyet neh.”

Ketimbang beli di mal atau pasar tradisional memang warga lebih memilih menunggu Pasar Malam. Pasar Malam tak hanya diminati kalangan kelas menengah ke bawah loh. Buktinya beberapa teman2 yang notabene punya pekerjaan yang cukup mapan memilih berbelanja di Pasar Malam. Salah seorang teman yang datang jauh2 dari Balikpapan hanya ingin membeli seprai dan jilbab di Pasar Malam. “Lebih murah bu. Bisa ngirit sampai 10 ribu sampai 20 ribu. Nih seprai ini mana ada di mal harganya Rp 80 ribu,” tutur dia. Di Samarinda Pasar Malam Jadi trend, bukan hanya ibu2 tapi juga anak muda. Janjian sama pacar juga kerap mereka lakukan di Pasar Malam. Buktinya, satu mahasiswaku kudapati lagi memeluk pacarnya jalan di pasar malam yang sumpek.hahahahhahaha, tapi dia kelihatan malu tuh…

Menurutku, Pasar Malam ini menjadi simbol perekonomian kerakyatan. Warga Samarinda terutama ibu2 punya penghasilan baru. Karena letaknya di gang, maka ibu-ibu sekitar gang yang punya keahlian memasak bisa menjual penganan atau masakan jadi. Bapak-bapak juga ada yang menjual sayur atau peralatan dapur. Bisa dibilang, masyarakat di sekitar gang jauh lebih makmur karena mereka punya penghasilan tambahan. Alhasil, meskipun bukan hari pasar, di pintu2 rumah warga dimana Pasar Malam sudah tersaji sayur atau ikan yang dijual warga. Saya sendiri merasa bersyukur karena mau beli apapun, adanya di dekat rumah, harganya miring lagi.

 Ya, berharap saja pemerintah tak melarang penjual2 kecil ini. Pasalnya, jika sudah jd fenomena kerap pemerintah menarik bayaran. Kalau mangkir, ya dihabisi. padahal, kita tahu, pasar2 kecil seperti ini menghidupkan perekonomian warga bahkan Indonesia. Ingat, saat krisis moneter, pengusaha besar banyak yang kolaps, tapi umkm tetap survive. yah ini karena basis usaha mereka bukan semu. So, selain pengusaha kecil ini untung, saya jugaa untung, lantaran tak terlalu mengeluarkan kocek lebih besar.

Daeng

7 Mar

Tinggal di kompleks perumahan memang tak jauh dari stereotip sebagai perumahan kaum urban yang penuh dengan konflik bertetangga yang cukup tinggi. Lantaran rumah yang berdempetan tanpa batas pagar membuat setiap tetangga rentan dengan cekcok hanya disebabkan masalah kecil. Gosip beredar tak menentu dan kerap menjadi ajang pertengkaran antartetangga. Jika ada adu mulut satu keluarga, percekcokan mereka dengan mudah terdengar. Tapi, bisa juga sangat solid apabila ada acara perkawinan atau kematian. Bagai disulut satu tokoh antagonis yang dibenci bersama, mereka langsung urung rembuk saling membantu.

Di kompleks inilah saya tinggal bersama keluargaku. Kompleks ini merupakan tanah milik perusahaan yang tadinya diperuntukkan sebagai gudang kantor. Bapak mendapat sepetak tanah di kompleks ini karena Bapak bekerja di perusahaan sebagai supir pribadi pemilik perusahaan. Jumlah karyawan yang terus bertambah, bertambah pula kebutuhan sandang untuk karyawan. Jika awalnya, bangunan tetap hanya terdiri dari sepuluh rumah dengan tipe 36, kini berdiri rumah-rumah dengan beragam macam bentuk. Dibangun oleh masing-masing karyawan lantaran kantor tak mampu lagi membangun rumah.

Kami sekeluarga merupakan gelombang kedua dari karyawan yang masuk di kompleks ini. Maka itu, kami sendiri yang membangun rumah tinggal di kompleks itu. Ketika pertama kali datang ke kompleks ini, buat mata anak berusia lima tahun, kompleks ini bak sebuah hutan lebat dipenuhi pepohonan yang tumbuh rapat. Di beberapa tempat pohon mangga, pisang, dan pohon ketapang tumbuh subur sehingga membentuk seperti hutan. Di kanan kiri menuju rumah kami dipenuhi serumpun tebu dan pohon pisang. Kerap jika pulang mengaji, saya selalu takut melewati kebun itu. Saya akan lari sekencang-kencangnya sembari membaca surah Al-fatihah. Tapi kalau mengingat kembali saya hanya bisa tertawa, pasalnya kebun yg kuanggap menakutkan itu tak lebih dari seimprit tebu dan pisang yang tumbuh renggang. Tapi memang bagi mata anak-anak, satu rumpun rumput yang tumbuh tinggi saja membuat merinding dan lari terbirit-birit.

Sebagai warga baru, kami mendengar banyak kisah tentang kompleks ini dari tetangga lama. Kompleks ini sebenarnya bukan dibuat untuk perumahan karyawan. Makanya, rumah permanen hanya sedikit. Rumah hanya ditujukan bagi kepala administrasi dan staf pentingnya. Hanya ada 10 buah rumah. Tak aneh kalau kompleks ini hanya dipenuhi belukar dan rumput yang tumbuh subur. Cerita mistik tentang bangunan dan gudang-gudang tua merupakan cerita favorit kami anak-anak kecil. Meski itu jadi pemicu dan sumber ketakutan kami.   

Rumah yang dibangun ayah berada di ujung kompleks. Tetangga yang paling dekat dengan kami adalah keluarga Bapak Sanusi. Lelaki paruh baya berusia sekitar 50 tahun ini dipekerjakan oleh kantor sebagai penjaga gudang kantor. Artinya, dia bertanggung jawab pada seluruh kompleks kami. Ia yang biasa kami panggil Uwak–mengikuti panggilan anak-anaknya– tinggal bersama seorang istri yang sangat pendiam. Ketika kami bertandang ke rumahnya sebagai penghuni baru untuk memperkenalkan diri, dia hanya tersenyum. Bagi mama yang kala itu masih berusia 25 tahun dengan tiga anak yg masih kecil, istri Bapak Sanusi bagaikan ibu baginya. Mama dielus dan adikku, Tri, yang masih berumur setahun digendong. Yang paling khas dari istri Uwak adalah rambutnya yang panjang. Ia rajin bangun pagi dan mandi di sumur umum kompleks kami. Setelah itu, ia sudah duduk di depan rumahnya sembari menyisir rambutnya yang panjang.

Uwak, memiliki 11 anak. Keluarga kami mengira, karena Uwak dan istrinya sudah tua, maka ia tak lagi melahirkan. Umur anaknya yang paling kecil bernama Rabia seumuran adik bungsu kami, sekitar setahun. Ternyata, dua tahun kemudian, Agus, lahir sebagai anak bungsu Uwak. Baru berumur setahun, istri Uwak meninggal. Uwak lalu menikah lagi. Buat kami, keluarga Uwak adalah keluarga yang serba kekurangan. Dengan anak 12 orang dan gaji yang minim ia harus membesarkan anak-anaknya. Maka, beberapa anak memang tak lagi sekolah. Bahkan untuk menamatkan SD saja sulit.

Keluarga ini pula yang paling dekat dengan kami. Mungkin karena lokasi rumah kami sangat berdekatan. Saya paling dekat dengan salah seorang anak Uwak. Ia seusia saya bernama Bunga Daeng. Kulitnya sawo matang, dengan struktur wajah lonjong. Menurutku, ia cukup manis. Ia selalu merasa bukan anak Uwak. Padahal kulit legamnya dan bentuk wajah sangat mirip dengan Uwak. Buat saya nama Bunga Daeng ini cukup unik, kami sering memanggil dengan nama Daeng. Tapi ia benci namanya. Daeng biasanya digunakan untuk panggilan kakak atau menunjukkan strata etnis. Namun, secara perlahan daeng lebih umum digunakan untuk memanggil tukang becak dan tukang-tukang lainnya. Itulah mengapa Daeng sangat membenci namanya. Nama Daeng pula yg acap membuat dia tak percaya diri.

Tak heran, ia sering mengubah namanya dengan nama Rahmawati. Agak mengherankan dia memilih nama Rahmawati, soalnya kakak yang di atasnya bernama Rahmatia. Rahmatia kami panggil dengan nama Tia. Kelak ketika kami sudah beranjak remaja, ia lebih sering menyebut dirinya Rahma.

Keluarganya yang miskin membuat Daeng sering meminta sabun mandi atau odol pada saya ketika kami mandi bersama di sumur umum. Bila waktu makan tiba, Daeng yang kelaparan sering meminta beras atau nasi pada saya. Biasanya, tanpa sepengetahuan mama, saya sering menyembunyikan beras dan laukpauk untuk Daeng.

Daeng hanya beda dua tahun di atas saya. Ketika saya kelas satu sekolah dasar, ia masih di rumah mencuci baju dan mengangkat air. Ia baru bersekolah ketika ada kakaknya yang sudah menikah dan tinggal di perumahan kusta mengatakan ada sekolah dasar di dekat rumahnya menggratiskan sekolah. Di sanalah ia bersama kakaknya Rabasia dan Tia bersekolah. Jaraknya yang sangat jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki membuat mereka sudah harus bersiap-siap sekolah pukul 5. Namun Daeng dan Tia hanya sanggup bersekolah hingga kelas lima. Rabasia berusaha keras menamatkan sekolahnya. Di antara mereka bersaudara hanya Raba yang menamatkan sekolahnya hingga SMA. Ia juga yang paling cantik di antara bersaudara.

Daeng dan Tia yang sudah berhenti sekolah, kemudian bekerja di perusahaan perikanan. Ia memisahkan daging ikan dari telur ikan terbang atau di kampung kami disebut ikan Tuing-Tuing. Telur ikan tuingtuing ini bagi kalangan jetset adalah makanan mewah, dikenal dengan nama kaviar. Menurutku, setelah bekerja, Tia dan Daeng cukup bisa menghidupi diri dan adik-adiknya. Daeng sudah tidak pernah meminta beras lagi pada saya.

Beberapa tahun kemudian, Uwak meninggal dunia dan hanya meninggalkan utang dan sepetak rumah di kompleks. Anak-anaknya sebagian menempati satu petak itu. Mereka membagi-baginya. Ada Sia, Raba, Daeng, Baso, Sansu, Bia dan Agus di rumah sepetak itu. Kelak ketika anak Sia beranak cucu, juga membangun petak-petak sempit di rumah itu. Sebagian lagi anak yang lebih dewasa mencari tempat tinggal di luar kompleks.

Sepeninggal Uwak inilah tragedi keluarga itu dimulai. Bak anak ayam kehilangan induk, mereka hidup dari belas kasih dari para tetangga. Sansu yang masih berumur 11 tahun menjadi berandalan di kompleks kami. Ia yang tadinya dikenal memakan makanan apa saja, bahkan makanan basi juga acap ia makan sehingga dijuluki Dora, menjadi kriminal kecil di Kompleks. Awal nama Dora muncul, berasal dari seorang pengemis bernama Dora. Dora ini sering duduk di tempat sampah dan mengais-ngais bekas makanan. Karena kebiasaan Sansu yang makan apa saja itu membuat keluarganya menjuluki Dora. Setelah Remaja ia mengubah namanya menjadi Jack. Jika Sansu lagi kumat, jangan pernah berharap jemuran kering, atau tanaman pisang matang di pohonnya dan ayam tetap berkeliaran. Pasalnya, tengah malam atau ketika kita lalai, ia sudah berhasil mengoprek jemuran, pohon pisang dan ayam orang-orang kompleks. Beberapa tetangga diam saja. Tetapi ada pula yang langsung mendatangi dia. Seperti kebiasaan pencuri, Sansu tak pernah mengakui perbuatannya. Sansu adalah kerikil di kompleks kami.

 

Selain Sansu, kakaknya Baso, juga menjadi maling Kompleks. Jika ia tak dapat obyekan sebagai tukang batu alamat ayam-ayam dan jemuran pakaian penghuni kompleks sering jadi sasarannya. Anehnya, ia kerap menjual hasil malingannya pada tetangga. Sehingga, kerap ketahuan. Tapi memang tak ada yang bisa menangkap dan melaporkan ke polisi. Biasanya hanya teguran saja. Kalau seperti itu, biasanya para tetangga lebih berhati-hati saja. Namun Bapak sering kesal. Ayam piaraannya dan celana jins kakakku sempat hilang. Kita hanya bisa menahan kesal karena tak punya bukti pencurian dilakukan oleh Baso atau Sansu.

Kemudian secara berurutan, kakak-kakak daeng menikah. Kebanyakan menikah dengan pengangguran, sopir angkot atau penjaga perumahan. Sia menikah dengan lelaki beda agama, menyusul Tia juga menikah dengan lelaki beda agama yang bekerja sebagai sopir angkot. Menurut tetangga, hanya lelaki beda agama saja yang mau mendekati mereka. Ini lantaran, dianggap oleh para tetangga mereka mudah berganti agama karena kemiskinan. Tapi menurutku, ini karena para tetangga tak peduli pada hidup keluarga ini. Padahal peran tetangga sangat penting untuk membantu tetangganya yang kesulitan. Bia menikah dengan seorang Satpam. Begitupun Raba menikah dengan pengangguran dan sesekali mencuci mobil dan membersihkan halaman di perumahan depan kompleks kami. Mereka beranakcucu di tanah petak di kompleks kami. Pihak kantor tak berani mengusir. Mungkin karena mengingat jasa Uwak di masa lampau.

Sedangkan Daeng tetap menjadi kawan dekatku. Meski apapun yang terjadi di keluarganya, entah mengapa Daeng tetap sahabat kecilku. Sering berjalan waktu, saya disibuki dengan kegiatan sekolah. Ikut ekstrakurikuler dan pekerjaan rumah. Sementara Daeng malah disibukkan dengan bekerja. Perusahaan ikan tempatnya kerja bangkrut, ia lalu bekerja sebagai tukang cuci di rumah-rumah tetangga. Selain itu, ia juga ikut menyanyi di Orkes Melayu kampung. Suaranya memang bagus. Kalau menyanyi lagu dangdut, kami sering terpukau. Lagu Rita Sugiarto, Mati Lampu, adalah lagu favoritnya. Ia sering menyanyikan saat lampu padam di kompleks kami. Meski lagu-lagu Rita Sugiarto kebanyakan bernada sendu, tapi ia tetap berjoget. Kami lalu bertepuk tangan usai ia bernyanyi.

Saat saya menamatkan SMP, Daeng mulai mengenal seorang lelaki. Kedekatan Daeng dengan seorang lelaki pengangguran tak disetujui keluarganya. Ia lalu silariang, kawin lari. Ia datang dengan suaminya setelah hamil. Itu juga karena ia sering dipukul suami yang tak bekerja dan tak memiliki tempat tinggal. Karena iba, kakak-kakaknya memanggil agar tinggal di salah satu bagian rumah peninggalan Uwak di kompleks kami. Toh, meski ia telah berada di tengah keluarganya, Daeng tetap menjadi sasaran kekerasan suaminya. Kami sering sekali mendengar percekcokannya dengan suaminya. Daeng sering teriak-teriak jika bertengkar dengan suaminya. Mereka saling mencaci. Omongan sangat kasar berasal dari mulut suaminya.

Daeng sering bercerita tentang masalah keluarganya. Biasanya setelah menggunakan telepon rumah kami, ia bercerita panjang tentang kelakuan buruk suaminya. Suaminya kerap berselingkuh, tak pernah mau bekerja, keluyuran tengah malam. Kalau Daeng meminta ia kerja, dengan ringan tangan suaminya sudah berada di pipi Daeng. Tubuh Daeng kurus kering. Selama menikah, ia yang membiayai seluruh hidup suami dan tiga anaknya. Ia mencuci pakaian di tiap rumah di kompleks kami.

To Be Continue

Nama Anak

7 Mar

Memberikan nama bagi anak jamak dilakukan ketika anak baru lahir. Menemukan nama anak biasanya susah-susah gampang. Beberapa keluarga muda, kerap menentukan nama calon bayinya ketika ia sudah mengetahui jenis kelamin sang bayi usai USG. Pencarian nama ini mulai dari tingkat santai sampai tingkat ribet. Beberapa calon ortu acap tak mau memberikan dengan nama yang sederhana. Mungkin belajar dari diri sendiri yang namanya tak mengandung arti apa2, atau terlalu singkat, bahkan diangggap kuno.

 

Ya, pemberian nama anak adalah hak prerogatif ortu. Kadang mereka egois. Memberi nama sesuai keinginan pribadi, tak mempertimbangkan kelak si anak suka atau tidak. Namun keluarga muda saat ini, sudah memiliki kecendrungan memberikan nama anaknya nama yang paling keren. Defenisi keren sendiri memang sangat tergantung referensi, latar belakang hingga kultur. Ada ortu yg sering nonton sinetron atau film, akan memberikan nama sesuai karakter tokoh yang disukainya. Ada yang suka membaca memberi nama sesuai nama salah tokoh tokohnya. Biasanya tokoh yang protagonis, tentunya. Sedangkan yang lain akan memberikan nama yang sangat tradisional.

 

Banyak cerita dibalik nama-nama teman yang kukenal. Ada teman masa kecilku dengan nama Bunga Daeng. Namanya unik sebenarnya. Tapi lantaran panggilannya Daeng membuatnya sangat membenci namanya. Daeng di Makassar lebih melekat pada panggilan tukang becak. Maka itu, setiap berkenalan ia akan memperkenalkan dirinya dengan nama Rahma. Tapi kami memberi usulan lebih baik Bunga saja. Kan itu juga memang nama dia.

 

Lain lagi cerita temanku bernama Nuralang. Ia kerap mengganti namanya dengan Alam. Menurutnya dan beberapa orang namanya okkot. Kata okkot hanya dikenal di Makassar. Okkot ini sebenarnya bahasa prokem anak muda Makassar. Ini ditujukan buat orang yang berbahasa Indonesia dengan kecendrungan masih dengan logat bahasa daerah Bugis atau Makassar. Bahasa Bugis/Makassar kerap menggunakan NG atau K diganti T di akhir kalimat atau seharusnya menggunakan G malah hanya berakhiran N. Lantaran itu, orang2 yg lahir dan besar di Makassar secara tak sengaja jika berbicara menggunakan berbahasa Indonesia acap menambahkan NG untuk kata yang seharusnya tak menggunakannya. Misalnya, mana BARAN seharusnya barang atau DUDUT seharusnya duduk atau SENAM seharusnya senang. Nah, Nuralang seharusnya Nuralam. Teman2 yang sudah lama kenal dia tetap memanggil dengan Alang. Tapi kalau kenalan biasanya dia menyebut diri dengan Alam. Itu dia lakukan karena kerap diolok jika berkenalan.

 

Tapi beberapa juga sangat menyukai namanya. Dua teman dekatku yang cukup bahagia dengan nama pemberian ortunya adalah Ana Oktovia dan Sophia Andayani.

 

Kalau nama saya sendiri sih, ya suka-suka saja. Nurliah. Nama yang pendek. Tak memiliki arti jika secara keseluruhan diucapkan. Kalau Nur sendiri berarti cahaya. Menurut mamakku, sebenarnya namaku adalah Naharia. Itu pemberian nenekku. Tapi mamakku sangat tidak suka. Katanya sudah banyak orang di kampungnya bernama seperti itu. Nurliah ia dapatkan ketika salah seorang istri teman kerja Bapak datang menjenguk. Mamak menyukai karakter istri teman itu. Katanya manja dan secara tampakan fisik, cantik. Ia menanyakan namanya, lalu tanpa meminta persetujuan Bapak, ia mengganti namaku dengan nama Nurliah. Karena saya masih bayi tentu tak sulit mengubah namaku. Nah, jadilah namaku Nurliah sampai sekarang. Di rumah saya dipanggil Nur. Teman2 SD hingga SMP memanggil dengan nama Nur. SMA, teman2 mulai memanggil saya dengan nama Lia. Entah kenapa saya suka.

 

Tapi, Lia juga adalah panggilan kakakku di sekolahnya. Namanya Nataliah. Di rumah dia dipanggil Natal. Jadi ya, setiap ada yang nelpon bila ada yang nanya lia, orang di rumah akan bilang lia siapa. Soalnya pernah suatu kali kakakku lagi tidur trus ada yang nelpon. Dia bangun dari tidur nyenyaknya tetapi ternyata telepon itu bukan untuk Lia dia, tapi Lia saya. Marahlah dia. Hahahhahaha.   

Beberapa teman, entah mengapa sering meminta saran untuk nama anaknya. Dua temanku menerima saran nama buat bayinya. Yang satu Naufal, yang satunya Chantal. Saya suka nama Chantal dari buku Identitas Milan Kundera. Artinya nyanyian. Naufal sendiri kudapatkan dari pencarian di mesin google. Artinya cukup bagus. Senang juga sih, ide untuk nama2 anak temanku disukai. heheheh

 

Saya sendiri punya nama yang kusukai. Sophie. Saya suka nama ini karena memiliki arti kebijaksanan. Diam2 saya selalu ingin memberi nama ini buat anakku. Mungkin kalo ide ini kulontarkan pd teman2 mereka pasti tertawa. Lia..lia, cari suami dulu baru cari nama anak. Hahahahah. Iya sih. Tapi ternyata bukan hanya saya yg diam2 sudah punya pilihan nama buat anak. Beberapa temanku yang jomblo sudah punya nama buat anaknya. anehnya, ditambahi dengan embel2 nama lelaki pujaannya (yg belum tentu bakal jd suaminya, wuakakakakka). Ternyata bukan hanya gw yg neorosis. tapi kupikir2 sebenarnya bukan hanya kami2 yg sudah mencari nama buat anak2 kami kelak. Saya yakin banyak kok di antara kalian punya gagasan gila ini. Hanya malu aja, kayak diriku. Sekalinya ada teman yg bercerita soal pengalamannya, sy pun akhirnya berani menceritakan kisah ini.

Eh, baiknya selain Sophie, ada gak tambahan nama lain supaya tak hanya terdiri dari satu suku kata saja. Hayoooo ada usulan gak…. Image

28 Nov

Beberapa hari ini saya tertawa terus setiap kali mengingat perkataan temanku. Ia adalah teman se-gengku semasa menjadi wartawan. Sabtu malam lalu ia tiba di Samarinda bersama teman yg juga menetap di Balikpapan. Ia datang untuk sebuah liputan tentang ambrolnya jembatan Parikesit Kutai Kartanegara. Kutai Kartanegara salah satu wilayah Kaltim yang terkaya dan berada sekitar 50 km dari Samarinda. Di tengah kelimpungannya menulis hasil reportase, ia teriak kepada saya, “lia karena di antara teman-teman hanya kita berdua yg belum menikah, ayuk kita menikah saja,” kata dia tertawa ngakak. Lalu teman-teman ikut nyeletuk, “ia tuh kalian kan sudah sama-sama s2 dan masih single.” Logika ini aneh juga ya : s2 dan single.

Saya sih hanya tersenyum kecut. Malam minggu, gak ada pacar, terus diolokin teman-teman. Yang menelpon saya pas malam minggu hanya satu cowok. Ia teman kerja. Lajang sih, tapi tahu gak alasan dia menelponku hanya ingin menceritakan soal kejadian runtuhnya jembatan berjuluk Golden Gate Kukar ini. Ia juga menyarankan agar mewawancarai narasumber yg melihat langsung kejadian. Lah, aku neh udah gak melakoni pekerjaan wartawan lagi. Tapi demi berbaik-baik, soalnya dia yg menolong saya ketika baru menjadi dosen, maka kuminta nomor hp narasumber itu dan menyerahkan ke temanku yg lagi nulis berita.

Soal ajakan itu memang kutanggapi biasa saja dan menganggap sebagai hal yang lucu. Bisa jadi temanku ini hanya stres sehingga butuh pengalihan. Biasa, berita besar harus melibatkan banyak narasumber. Tuntutan biasa juga lebih besar karena harus menulis beberapa angle. Alhasil, buat lucu-lucuan dia ajaklah saya menikah. Efek liputan, teman-teman pada ceritain soal anak, menjadi formulasi ajakan dia malam itu. Tapi seharusnya saya yang harus curhat malam itu, tapi anehnya di antara kerubutan lelaki ini aku yg jadi sasaran tempat sampah. Mulai soal istri, anak, hingga mantan pacar yg masih terus menggoda. Halah, dasar.

Soal ajakan itu, memang hanya aksi lucu-lucuan saja. Tapi sebenernya kalau kutanggapi serius, saya yakin itu bisa jadi serius. Kami sama-sama perantau, sebenarnya cocok dalam obrolan, dan juga satu suku. Dimana dalam proses apapun terkait kultur dan kebiasaan menikah akan lebih mudah. Tapi tahulah saya, dengan pikiranku yg begitu kompleks, semua hal jadi rumit. Seharusnya saya berpikir sederhana, usia sudah sangat matang (kalau ditanggapi sama alang udah buccuk), kami sama-sama memiliki pekerjaan dengan latarbelakang yang sama, hayo apa lagi yg jadi alasan untuk tidak merealisasikan. Cinta. Halah omong kosong. Cinta hanya ada dalam dongeng kata GM. Lantas? he is not my type. Yaahhhh kembali lagi.

Mengutip kata teman dalam tulisannya, “tak ada yg membuatku bergetar.” ehmmmm ya, i dont have chemistry with him. Tapi memang beberapa lelaki yg dekati saya tak ada yg pernah membuat saya bergetar. Tapi hanya ada satu lelaki yg kerap membuat saya berdebar kencang, meski belakangan ini sudah mulai meredup. Akhir2 ini hadir seorang cinta platonik. Dalam defenisi prof Tommy F Awuy: tak ada keterlibatan fisik, hanya diketahui oleh satu pihak. Ini pola yang terus menerus berlangsung pada diri saya. Kalau ada yg menyukai saya, pasti saya tak suka. Malah menyukai orang yg tak suka saya. Halahhhhh, mana bisa jadian.

Terpikir dalam benakku, jika ada perempuan yg punya kondisi seperti saya, saya yakin pilihannya adalah menerima ajakan orang yg sudah dikenalnya. Meski tak punya perasaan apapun. Menikah karena kondisi sosial menuntut. Atau kusebut nikah sosial. Pada akhirnya toh akan ada rasa juga kalau bukan jadi kebiasaan bisa jadi sindrom. Misalnya sindrom Stockhlom. Sindrom ini memiliki karakter setia pada penyanderanya. Nah, menikah tanpaa cinta dengan alasan sosial kita samakan saja sebagai sandera. Lama kelamaan seperti Carol Smith yg akhirnya menaruh rasa sayang kepada penyandernya. Ahhhhh entahlah hhihihi. Atau malah terus2an terjadi sindrom lima, dicintai terus menerus oleh penyandera halah.

Tapi sudahlah….Met malam gw besok ngajar….

sedih

28 Nov

Kesedihan memang sangat subyektif, maka itu ketika kamu sedih sebaiknya tak memperlihatkan secara terbuka. Jangan pula berharap orang dekatmu berempati, karena tak semua orang mengerti kesedihanmu. Tersenyumlah seolah tak ada persoalan yg kamu hadapi.

Saya belajar untuk terus menerus mengakarkan pikiran ini dalam benakku. Berusaha sedapat mungkin mencari cara bahwa kesedihanku tak lebih menyakitkan dari orang lain. Mungkin benar petuah orang tua bahwa jangan pernah melihat ke atas. Oke mungkin itu tak sama, tapi buatku makna petuah ini sedikit banyak bisa diadopsi dalam hal kesedihan. Kesedihan sama dengan strata—melihat ke atas atau ke bawah. Kalau terus melihat orang lain dengan persepsi mereka bahagia, maka kita akan terus berpikir sebagai orang yang menyedihkan. Saya pikir ini bisa membuat kita terjerembab, bisa juga mendapatkan hikmah. Beuh terlalu sok bijak. Tapi begitulah sebaiknya.

Kerap ketika saya bersedih, saya selalu ingin menjadi pendengar. Mendengarkan kisah-kisah orang lain. Sehingga persepsi saya menganggap mereka tak lebih dari saya. Supaya saya merasa bahwa kesedihan yg jadi milikku tak lebih menyedihkan dari milik orang lain. Saat tahu orang lain memiliki kesedihan yg tingkatnya lebih rumit dari diriku, saat itu saya bisa bernafas lega, toh saya tak sendirian dalam kesedihan. Bahkan, acap melihat kesedihan orang lain lebih parah, sehingga mampu berdamai dengan rasa sedih yg mengendap di hati.

Move First

20 Jun

Saya mengenal dengan baik dua perempuan ini. Mereka lucu, cerdas, dan dari semuanya mereka perempuan yang optimis. Saya selalu iri dengan rasa optimisme mereka. Terutama dalam mengejar cinta. Tak heran, mereka benar-benar yakin cinta akan datang menemui mereka jika tetap berharap dan tak lupa berusaha keras. Ehmmm, sangat berbeda dengan saya yang apatis.

Saya mengagumi kegigihan mereka untuk mendekati cinta mereka. Mereka memilih dan melangkah lebih dahulu jika menyukai seseorang. Saya selalu tak berani. Hanya menatap atau berharap bertemu. Tak berani bicara jika ketemu. Selalu saja ada campur tangan teman jika bertemu dengan orang yang kusukai. Tak pernah berani memberi sinyal, jika tanpa dorongan teman-teman.

Tapi mereka, selalu punya inisiatif dan ide untuk bertemu lebih dulu. Mengirimi SMS untuk alasan yang berbeda-beda, membawakan makanan, buku, dan hadiah di hari ulangtahunnya. Bahkan, menyatakan perasaan mereka lebih dulu. God, saya hanya berani menatap dan melihatnya berbicara dengan orang lain. Mereka berani menerima penolakan. Hebat.

Perempuan satu ini adalah teman semasa kuliah dan kemudian menjadi sahabat di masa-masa kami mulai meniti karir. Ia yang mendorong saya untuk kuliah lagi dan banyak motivasi lainnya. Ia menjalani hubungan emosional dengan beberapa lelaki. Selalu kandas entah karena jarak maupun prinsip yang tak klik. Tapi tetap saja mampu menjalani hubungan selanjutnya. Terakhir, ia menyukai seseorang, kebetulan adalah sahabat temannya. Ia melangkah lebih dulu dengan menyatakan perasaannya. Ia menceritakan pada saya mengenai respon si cowok itu yang hanya tertawa dan kemudian bilang, “is it true?”

Namun belakangan ia mulai terdengar gamang. Melalui sms dia bertanya padaku, “Li, jika seorag laki2 tidak ingin ditahu tentang dirinya lebih banyak lagi, apa itu berarti dia tidak ingin serius dengan kita? saya jawab IA. Itu sebuah pertanda. segera setelah beberapa sms kami yang berbalas2an, datang sebuah sms keputusan. “jangan menghabiskan banyak waktumu pada seseorang yang di masa depan tak akan membuatmu bahagia.” Lalu ia mengutip lagu teranyar Astrid. “Karena hatiku tak akan kuberi, pada kekasih yg tidak baik hati. jadi daripada aku mengharap kesungguhannmu aku lebih memilih pergi dan cari penggantimu.”

Ia putuskan tak akan mendekati si cowok itu lagi. No hp bahkan ia hapus dan tak ingin menghapalnya. Tapi saya tahu, kendati memutuskan secara emosional tak akan melihat segala hal tentang lelaki itu, tetap saja ada kerinduan yg sulit lepas. we need more powerfull words to forget everything bout him. hell yeahhhh….Tapi saya yakin seperti lagu Astrid itu, ia tak menutup peluang lelaki lain untuk masuk ke relung hatinya….ehmmmm i think you just likes gigi, dia percaya dan yakin dan terus berupaya akan menemukan cinta sejatinya…saya berdoa untukmu sobat.

Sementara teman yang satu lagi masih terlihat hangat-hangatnya mendekati seorang cowok yang cukup kukenal baik. Ia seperti temanku yang kuceritakan tadi, optimis dan berusaha. Ia tahu lelaki itu sangat menyukai buku, maka buku adalah hadiah yang paling sering ia berikan selain kue. Saya selalu menjadi orang yang harus menemaninya membawakan hadiah-hadiah itu. Entahlah, mungkin lelaki ini sudah mulai luluh. Tetapi ia seperti lelaki yg sangat kusukai, belum siap dengan hubungan serius. Sebabnya, masih banyak urusan keluarga yg belum selesai ia rampungkan. poor my friend, poor me!

Saya sendiri sangat yakin dengan bahasa tubuh, sangat yakin dengan pertanda, dan sangat yakin dengan gejala. Untuk mengetahui itu, saya selalu merujuk sama film He’s Just Not That In To You. “Kalau dia tak nyamperin kamu duluan, itu tanda kalau dia anggap kamu bukan siapa-siapa,” ucap aktor Justin Long kepada karakter perempuan dalam film bernama Gigi. Semua tanda itu sangat jelas kubaca pada kasus dua temanku termasuk saya sendiri. Jadi sobat, ingatlah pesan Justin Long, kalo dia tak nyamperin kamu duluan, sudahlah, forget him, find someone else! (seraya berharap kalimat terakhir yg kutulis itu merupakan sugesti yg sangat kuat buat saya…..God HELP ME!!!!!)

setelah setahun

2 Mei

Sambil menunggu kantuk yang tak juga datang (tumben sekali), jadi teringat dengan blog kami berempat (saya, Liah, Ani dan Ana) yang dbuat setelah sebuah makan malam di Mal Panakukang, awal 2009. Pertemuan kami kembali di Makassar, setelah berpisah nyaris 1 dekade. Akhirnya kami bersepakat membuat blog “lajangbahagia” dan Ani yang lebih melek teknologi dibanding kami bertiga akan membuat blog-nya. Dan kami berempat boleh menuliskan apa saja di blog itu. Walopun pada akhirnya Liah yang paling produktif menulis :D . Walo diikrarkan berempat, waktu itu kami mengundang the lajangers yang lain, khususnya Ana Rusli dan Hayati Maulana untuk ikutan mengisi blog ini, namun sampai saat ini tak pernah dipenuhi, hehehe. Setelah 2 tahun berlalu, jadi rindu menengok blog ini dan memenuhi janji pada Liah untuk memposting tulisan perpisahan setelah saya menikah April 2010. Dan baru sekarang, saya bisa memenuhi janji itu.

Sebenarnya tak penting. Hanya ingin menuliskan jejak kami berempat setelah 2 tahun berlalu. Dimana, bagaimana dan kemana kami sekarang. Saat itu, entah kebetulan atau tidak, kami yang dulu seangkatan magang di Penerbitan Kampus Identitas Unhas bertemu kembali di sebuah titik di Makassar setelah kami mencari hidup dan penghidupan di tempat lain. Ani, saat itu sedang menyelesaikan tahun terakhir di program S2 Komunikasi Unhas dan sudah bekerja di Humas Pemprov Gorontalo. Liah menjalani tahun pertama di program yang sama setelah meninggalkan profesi jurnalis di provinsi terkaya di Indonesia, Kalimantan Timur. Sedangkan Ana mengambil program akta mengajar (cmiiw) dan akan kembali mengajar di provinsi yang sama dengan Liah. Saya sendiri-akhirnya-bekerja di kota kelahiran tercinta setelah bekerja di Palu dan Aceh sejak 2001 (hmmm..sudah tua).

Saat itu kami sama-sama bertekad, harus sukses menyelesaikan sekolah dan harus sekolah lagi. Dan hari ini…2 diantara the lajangers tidak lajang lagi, dan 2 diantara the lajangers masih lajang namun sudah menyandang helar S2. hmmmm…Apa yang istimewa? Bagiku sagat istimewa. Kami bertemu disebuah titik ketika semua orang mulai mempertanyakan kesendirian kami. Entah sekadar menghibur, jujur bahkan prihatin, umumnya berkata, apa sih yang kalian tunggu. Masak diantara pengembaraan itu tak menemukan seseorang yang pas. Toh (katanya) wajah kami tak jelek-jelek banget (fisikal sekali yah), walo tak kaya, kami punya pekerjaanlah dan modal pendidikan, cukuplah. Tapi bukankah mencari pasangan bukan sesuatu yang matematis?

Kami terus berjalan dan menapaki episode kehidupan kami dan harus siap menjawab kegelisahan, kegamangan dan pertanyaan dari keluarga, teman, sahabat, rekan sejawat dan diri sendiri. Mengapa kami masih sendiri? Bagiku sendiri, tak jelas mengapa. Saya bukannya anti menikah, namun sampai pada sebuah titik ketika kukatakan pada diriku sendiri dan sahabat-sahabat yang bertanya tak akan menikah hanya karena memenuhi tuntutan lingkungan dan normalitas masyarakat. Entah itu tuntutan keluarga (dan thanks untuk bapak-ku yang menganggapku sudah dewasa untuk menentukan hidup), takut dicap perawan tua dan berbagai stereotype lainnya. Aku akan menikah jika sudah menemukan yang pilihan yang tepat, tepat untukku dan tepat untuknya. Alhamdullilah, Allah,SWT menjawab doa-doaku untuk memilihkan jodoh yang tepat. Tak perlu proses lama, aku dan calon suamiku, hanya butuh waktu sebulan untuk meyakini bahwa hubungan kami sudah harus lebih dari teman, dan kami bersepakat untuk menikah beberapa bulan setelah itu.

Setelah setahun masa pernikahan kami, saya baru mengingat kembali janjiku untuk menulis lagi. Tapi perlu kutambahkan teman, menjadi lajang memang membahagiakan, tetapi memiliki suami jauh lebih membahagiakan. Jujur…memang tak mudah menghadapi transisi ketika hidup kita harus berbagi. Saya butuh waktu untuk melalui itu, dan setelah setahun, saya merasa makin menemukan arti menikah dan arti berbagi. Setiap hari adalah sebuah proses untuk saling memahami karakter dan perbedaan masing-masing, dan buatku, menikah itu menjadikan kita bisa lebih bijak, dewasa dan lebih mampu berbagi.

Bagaimana Ana?….Untuk Lia dan Ani…seperti dulu saya juga jengah selalu ditanya kapan menikah, kenapa tidak menikah, jangan terlalu memilih, saya bisa merasakan itu teman. Jadi, saya tidak akan menyarankan apapun…semua orang berhak atas hidupnya. Cukuplah apa yang kutuliskan ini untuk kita nikmati bersama *sambil melirik-lirik Ana Rusli dan Hayati Maulana* sembari mengingat percakapan-percakapan kami dengan Kak Muhary yang selalu siap mendengar curhatan para the lajangers (saat itu).

7 Des

Melelahkan menjawab satu per satu pertanyaan teman kapan menikah, kapan menikah. Inilah yang terjadi setiap menghadiri pernikahan teman. Yang terakhir kudatangi pernikahan sahabatku. Sebab kami memiliki teman dan komunitas yang sama semasa kuliah, maka kebanyakan yang datang juga adalah yang sangat kukenal. Tentunya, pertanyaan itupun yang jadi santapanku berhadapan dengan mereka. Hehehe. Saya cuma bilang saya menikah bulan 12 tapi tolong bawakan pengantin prianya. Dan mereka tertawa, sepertinya bahagia dengan jawabanku. hahahahah

Saya ingin bercerita tentang kami berlima. Semasa kuliah, kami bersahabat lima orang. Hingga 10 tahun usai kuliah, kami masih tetap menjalin persahabatan. Dua di antaranya cukup cepat menikah. Tia bahkan usai KKN sudah menikah, sedangkan Warda setahun menjadi sarjana memutuskan menerima perjodohan yang diatur kakaknya.
Tinggallah kami bertiga. Saya, alang dan ana. Alang yang bermukim di ujung Kaltim, Nunukan, cukup lama memutuskan menikah setelah sekian lama putus dengan pacar semasa kuliahnya. Dia cukup sedih kurasa dengan putusnya hubungan mereka. Sehingga hingga 12 tahun sejak mereka putus, ia belum juga menemukan orang yang cocok. Hingga akhirnya setahun lalu dia bertemu dengan Ismail dan memutuskan mengakhiri masa lajangnya. Mereka beda umur empat tahun. Brondong katanya hehehe. Entahlah Alang tak cukup banyak bercerita kenapa dia memilih Ismail. Hampir kebanyakan perempuan ketika berumur 30 tahun mulai was-was. Dan ketika ia memutuskan menerima Ismail, umur Alang sudah 31 tahun. Ehmmm

Saat menghadiri pernikahan Alang, saya dan Ana bilang siapa di antara kami yang lebih dulu menikah. Kujawab, pasti kamu ana. Saat itu dia juga agak meragu, meski punya pasangan yang sudah lama ia pacari, dia masih tak yakin. Ini karena mereka tengah vakum dan memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Meski dia bilang siapa yang tahu, bisa jadi saya lebih dulu, toh dalam hati saya juga tak yakin. Mengingat saya tak mudah cocok dengan pria akibat ideologi yg kuanut.

Tapi di sinilah kami di pesta pernikahannya bersama pacar 14 tahunnya. Dan sayapun jadi bahan perbincangan yang menarik. Hahahahaha. Yah, banyak sih hal yang menyakitkan. Tapi itulah konsekuensi hidup di dunia yang menganggap pernikahan adalah hal yang penting. Capek aja bilang gw bakal menikah kalau menemukan orang yang cocok (pernikahan bukan soal umur, tapi tentang menemukan orang yang cocok). Plis deh. Jadinya gw hanya bisa tersenyum kecut doang. Dan berharap pesta ini segera berakhir. Hahahaha maaf ana.

Herannya, saya tak juga merasa khawatir, tak merasa takut, tak merasa harus cepat menikah. Memang sih, sedih banget ana menikah, karena tahu bakal gak ada lagi temanku yang punya masalah yang sama: didesak menikah. Kalau soal dia akan memilih suaminya ketika saya butuh dia, ya emang dari dulu begitu juga. Saya curhat ketika dia tak punya masalah. Tapi kebanyakan memang semua sahabatku yang curhat sama saya.

So, saya selalu menganggap tak akan pernah kehilangan mereka meskipun mereka sudah menikah. Malahan mereka kadang yang suka mencari saya, ingin bercerita macam-macam. Sebab saya bukan tipikal perempuan yang sepi kerjaan, hidupku selalu dipenuhi banyak hal. Menemukan banyak teman-teman baru. So, kalau dianggap gw bakal kesepian, gak pernah tuh. Emang sih ada saat kita merasa kesepian tapi itu hal yang lumrah, siapa bisa menjamin ketika menikah kita juga tak kesepian. Kesepian kan adalah masalah rasa di dalam diri, bukan tentang keadaan yang ramai.

Nah, inilah yang kadang bikin heran sendiri dengan diriku. Gw terlalu kuat menghadapi persoalan apapun. Mungkin juga karena saya merasa tak ada lelaki di dunia ini yang punya perspektif feminis, egalitarian, sehingga tak membuat saya ingin cepat-cepat bersama pria dan menghabiskan seluruh hidupku bersama pria. Setiap kali menganggap cowok ini cakep, atau cerdas, atau baik, tapi pada saat yang sama saya beranggapan dia tak bisa memahami ideologi feminis yang melekat sangat kuat dalam pikiranku bahkan tindakan.

Kata temanku, saya cocok menikah dengan bule. Tapi saya tidak sepakat dengan kebebasan seks yang mereka anut, agama kami berbeda, nilai-nilai ketimuran yang masih penting buat saya (beberapa hal). Pada akhirnya, saya hanya bisa tersenyum (kecut dihadapan merka). Plis deh, saya hanya mau merasa tenang dengan semua hal yang kuyakini. Tak peduli dengan pikiran setiap orang. Tapi setiap kali ditanya, membuat saya kelelahan saja.

kompromi

2 Des

Untuk sebuah urusan saya kembali ke Kalimantan Timur. Setelah semua selesai, singgahlah saya di salah satu kota di Kaltim, Balikpapan, menunggu hingga balik lagi ke Makassar. Di kota minyak itu, saya menjadi tamu temanku yang kebetulan sudah menikah. Kami adalah sahabat. Dia dulunya jurnalis di sebuah media elektronik. Kami adalah partner yang kuat ketika bersama meliput. Isu-isu yang kami tampilkan selalu leading. Kami yang awalnya diremehkan sejumlah jurnalis, mulai ketakutan dan akhirnya merapat ke kami.
Waktu itu kami hanya menertawai mereka, meski tetap menerima. Yah, kami kan memang bukan mencari musuh, hanya ingin bekerja dan bisa membeli kesenangan. Dia perempuan yang cukup tangguh, walaupun secara fisik terlihat rapuh. Tapi jangan salah, dia punya pandangan yang kuat terhadap persoalan hidup. Kami adalah tim yang hebat. Dan dia kerap merindukan saat-saat itu. Begitupun saya.
Di rumahnya saya menginap beberapa malam. Setiap hari seorang sahabat yang juga tim kami ketika itu, kerap mengunjungiku usai deadline di kantornya. Kami kembali curhat-curhatan. Terutama mengobrol tentang langkah ke depan dan soal mendapatkan pasangan. Hehehe biasa, curhatan para lajang. Dia juga nimbrung. Lalu memberi komentar, bukan petuah atau nasehat, karena dia bukan tipikal perempuan bersuami yang sok mengajari kami tentang memilih suami.
Agak terhenyak saya dengan komentarnya, meski sangat tahu dan jelas latar belakang pilihannya untuk menikah dengan suaminya. Dia bilang, hingga saat ini dia masih belajar mencintai suaminya, tapi meskipun kondisi perasaannya seperti itu dia bahagia dengan semua pilihannya. Ia tak mau memilih lelaki yang sangat dicintainya (yang sebenarnya juga mencintai dia). Ia mengaku capek menghadapi segala tetek bengek urusan dengan lelaki yang sangat dia cintai. Pertama, dia menunggu lama, kedua dia harus berkompromi untuk bersama keluarga lelaki itu, selebihnya dia harus menghadapi keluarga pacarnya yang menengah ke atas, perbedaan sosial, hingga ketakutan kehilangan lelaki itu.
Dengan suaminya, ia bisa menjadi dirinya sendiri, memahami keluarganya, mengerti perasaannya, tak terlalu menuntut, dan di atas semua itu sangat mencintainya. “lia, kalau dengan lelaki yang sangat kita cintai, dia akan memperlakukan kita semena-mena, cuek, saya tidak bisa bergaul lagi dengan kalian, dan harus menjadi ibu rumah tangga yang benar-benar melayani dia. Saya mungkin bisa melakukannya karena cinta. Tapi ketika kita menikah, banyak hal akan mengubah itu. Bukan hanya tuntutan menjadi ibu atau istri, tetapi kita tentu ingin dimengerti dan didengarkan perasaan-perasaan kita. Bersama suamiku saya bebas mengutarakan segala yang menjadi pikiranku,” katanya.Ia pun menegaskan, kalau memilih suami disarankan yang benar-benar mencintai kami.
Saya melihat banyak perempuan yang melakukan hal yang sama seperti temanku itu. Meski ada seseorang yang sangat dia cintai, dia akhirnya memilih hengkang dari lelaki yang dicintainya.Berkompromi dengan dunia untuk memilih lelaki yang sangat mencintainya, karena yakin suatu saat ia akan bisa mencintainya.Kalaupun tidak, ia bisa belajar terus menerus mencintai lelaki yang sangat mencintainya. Menurutku itu memang benar. Banyak perempuan bilang ya dirinya menikah karena merupakan pilihannya, SALING MENCINTAI. Menurutku tidak, itu hasil kompromi deh. Dia berkompromi karena lelaki yang dia cintai tak mencintainya, akhirnya memilih lelaki yang memilihnya, lalu kemudian mengatakan inilah lelaki yang dia cintai. Saya melihat perempuan mudah jatuh cinta bila dia mendapat perhatian, dimengerti, sering bersama, dan nyambung.
Tapi buat saya sendiri, perasaan memang hal yang sangat kompleks. Karena kompleksnya, apa yang dia katakan temanku dan kemudian kusetujui, bisa jadi bukan pula hal yang mutlak. Akan banyak variannya. Karena itu, banyak yang bilang biarlah seperti air yang mengalir. Jangan jatuh cinta terlalu dalam, jangan mematok terlalu rigid, jangan jangan jangan. Ya, tentang hal ini memang saya harus menyepakati Mayong Suryolaksono, saya ingin hidup seperti air yang mengalir. Artinya sesuai apa yang sudah jadi takdirku. setelah sekian lama saya berusaha, bekerja dan ingin mencapai sesuatu, namun pada akhirnya bermuara pada sesuatu yang diinginkan Tuhan. Ya sudah, syukuri saja, paling tidak kita sudah berusaha. Kita tak stres dan bisa bahagia. Apapun itu, silahkan takdirkan untuk saya. APAPUN ITU.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.