Kerudung putih yang dikenakannya ia usapkan di mata dan hidungnya. Tapi titik-titik bening yang terus menetes di matanya tak juga berhenti. Kusodorkan tisu. Lia, kamu harus mendengarkan ceritaku, kamu juga bisa tulis, biar jadi pelajaran buat kita. Saya mengangguk.
Telah sebulan saya mendengarkan kisah hidupnya. Ini bermula ketika suaminya, Dirman, mengancam ingin bercerai. Ancaman pertama memang tak terbukti, tapi ancaman kedua Dirman membuktikannya. Ia telah mengepak seluruh barangnya, pakaian dan perlengkapan kerjanya. Seminggu kemudian, suaminya telah berpindah kota lain dan tentu juga rumah.
Tak ada yang prinsip dari alasan Dirman ingin bercerai. Ia menyebutkan satu alasan bahwa perasaannya pada mbak Jeni, sudah hilang. Kenapa bisa hilang? Menurut Jeni disebabkan ia tak bisa dekat dengan adik dan ibunya. Dekat disini adalah mengambil hatinya. Ini gara-gara selama sebulan adiknya menetap bersama mereka, Jeni tak tampak bermanis-manis di depan adik Dirman. Begitupun perlakuan Jeni pada Ibu Dirman, dianggap tak bisa akrab. Hanya itu. Padahal pernikahan mereka masih satu tahun. Tahap ini masih menyesuaikan diri, masih perkenalan terhadap sisi diri dan karakter masing-masing, dan membiasakan berkompromi. Tapi menurut Dirman Setahun sudah lebih dari cukup untuk saling mengenal.
Jeni, tak menyangka, keputusan bulat suaminya hanya dilatarbelakangi ketakdekatan dia pada adik dan ibunya. “Lia saya memang seperti ini ketika baru dikenal. Orang memang mengira saya sombong, padahal saya hanya pendiam,” katanya bercucuran air mata. Keterkejutan Jeni memang sangat wajar. Dari deskripsi dia tentang Dirman di awal perkenalan, Dirman sangat terbuka dengan semua kekurangan Jeni.
Sebelum berkenalan dengan Dirman, jauh sebelumnya, Jeni telah menikah. Pernikahan pertamanya tak langgeng, ia bercerai. Status yang berbeda dan usia yang berjarak tak membuat Dirman surut. Ia mau berkompromi. Ia rela berdebat dengan ibu dan saudara-saudaranya. Ia mau berjuang untuk Jeni.
##
Pernikahannya dengan Nyoman tak cukup setahun. Mereka berpisah. Pertemuan Jeni dan Nyoman dimulai dengan berkenalan lewat telepon yang salah sambung. Saya ingat, kami masih satu kos ketika ia pertama kali berkenalan dengan Nyoman. Ia katakan pada saya, lia saya akan menikah dengan Nyoman. Kalimat ini ia lontarkan setelah bercerita awal mula pertemuannya. Setelah itu, saya memang tak tahu lagi tentang Jeni. Saya dipindahtugaskan ke Balikpapan. Setahun setelah berkenalan dan hanya mengobrol lewat ponsel, Jeni memutuskan menerima lamaran Nyoman.
Pertemuan pertama dengan ayah Jeni di Jepara, sang ayah sangat setuju. Umur Jeni ketika Nyoman melamar 34 tahun. Alasan ini yang kuyakini mengapa ayahnya mau menikahkan Jeni dengan Nyoman tanpa tahu dengan jelas latar belakang Nyoman. Jenipun berani meninggalkan pekerjaannya yang mapan di Samarinda. Ia memilih tinggal bersama Nyoman di Jakarta. Nyoman tadinya bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK). Setelah kontraknya berakhir, ia memutuskan berhenti sejenak. Jeni memintanya bekerja di darat saja. Tapi keahlian Nyoman memang hanya sebagai ABK. meski berulangkali mencari pekerjaan tapi ia tak juga bisa dapatkan. Tak ayal, seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi oleh Jeni.
Namun kesabaran Jeni terus mengikis, Nyoman tak juga berusaha keras mencari kerja. Ia bahkan lebih memilih meminta beras di rumah saudaranya ketimbang menjadi tukang parkir. “Saya malu sekali saat dia bawa beras dari rumah kakaknya. Saya tak malu dia jadi tukang parkir, saya lebih malu kalau dia meminta-minta meski dengan saudara sendiri.” Akhirnya, dia putuskan untuk berpisah sementara. Ia memilih pulang ke kampung halamannya. Dengan uang yang cekak, ia pulang. Tapi ternyata, Nyoman tak juga menyusulnya, bahkan ia memilih bercerai.
##
Pulang ke kampung halaman, penderitaan Jeni tak berhenti. Perceraiannya menyebabkan ayahnya jatuh sakit. Sebagai anak pertama, ia diharapkan sukses, baik rumah tangga maupun pekerjaan. Tetangga menyalahkan dirinya. Ia dituding sakitnya sang ayah diakibatkan perceraiannya. Ia tak tahan. Berbekal uang pinjaman dari sahabatnya, Fera, ia kembali ke Samarinda. Pertama kalinya ia naik kapal dari Jawa ke Kalimantan Timur. Ia bersumpah, tak mau lagi naik kapal kelas ekonomi. Saya hanya tertawa saat ia bercerita soal naik kapal. saya sendiri sudah sering bolak-balik Makassar-Balikpapan via transportasi laut. Lagian murah. Kalau menjelang lebaran harga tiket pesawat gila-gilaan, makanya saya lebih memilih naik kapal. Kalau duit lagi banyak, pesawat jadi transportasi pulang kampung.
Jeni beruntung, kantor tempat ia bekerja dulu masih menerimanya. Meski hanya sebagai pegawai magang dengan gaji yang sangat rendah. Ia tak punya pilihan lain. Sahabatnya, Fera, yang meminjamkan uang juga sangat bermurah hati. Setiap hari ia memberikan Jeni uang untuk berbelanja makananan. Jeni pula yang memasak. Mereka makan bareng. Ini membantu Jeni mengirit uang hingga ia bisa kembali survive. Fera bekerja di perusahaan konsultan batubara. Ia salah satu manager. Domisilinya di Balikpapan, begitupun keluarga besar dan suaminya. Tapi karena kantor tempatnya bekerja di Samarinda maka ia memilih kosan dan pulang hanya sekali seminggu ke Balikpapan.
Pernikahannya yang gagal dan masa lalunya dengan tunangan yang pernah mengkhianatinya, membuat ia tak lagi peduli dengan pernikahan. Dua tahun di Samarinda ia berhasil menamatkan kuliahnya. Masa-masa itu, beragam lelaki mendekatinya. Ada yang sudah beristri mengaku jatuh cinta pada dia. Lalu ada yang mengaku lajang tetapi ternyata sudah beristri, padahal sudah berjanji akan menikahi Jeni. “Saat itu saya sangat hati-hati. Benar-benar harus tahu latarbelakang lelaki,” katanya.
Hingga suatu saat, ia dipertemukan dengan Dirman. Kebetulan waktu itu ia berkunjung ke tempat temannya yang lagi tasmiyah. Dirman yang merupakan tetangga temannya, melihat Jeni dan langsung jatuh cinta. Dirman minta diperkenalkan. Kalau melihat Jeni sekilas siapa saja memang ingin melindunginya. Ia terlihat rapuh, suaranya sangat kecil dan lembut, tapi dibalik itu dia sangat tegas, disiplin, dan keras kepala. Entah kenapa, standarnya yang tinggi tentang lelaki pupus dan kekerashatiannya terhadap lelaki cair ketika bertemu Dirman. Pekerjaan Dirman sebagai mandor dan hanya tamat SMP diterima Jeni dengan penuh cinta.
Dirman keukeuh mengajak kenalan, rajin mengirim SMS, bila Jeni sakit ia rela libur dari kerjaannya dan membelikan obat. Setelah tahu status Jeni sebagai Jandapun, Dirman terus melaju. Usia yang berbeda 10 tahun juga bukan halangan bagi Dirman. Begitupun ketika Ibunya tak setuju, dengan semangat ‘45 Dirman berjuang. Ia tak peduli status dan perbedaan usia. Ia bersikeras menikah meski ibunya tak setuju.
Mereka akhirnya menikah. Namun nyaris setahun pernikahan mereka, Dirman menyerah. Alasannya hatinya telah hampa terhadap Jeni. Itu lantaran Jeni tak bisa menarik hati sang bunda dan adiknya. Tapi jika Dirman bijak, seharusnya ia tahu, pendapat ibunya tentang Jeni akan sulit berubah. Sebaik apapun Jeni. Karena sejak awal Ibunya sudah antipati terhadap Jeni. Perlu waktu yang panjjaaaaaannnggg untuk mereka bisa saling memahami. Apalagi ibu Dirman baru sekali berkunjung ke Samarinda. Jarak mereka berjauhan karena si Ibu menetap di Sulawesi. Pertemuanpun baru sekali. Kondisi itu belum bisa menjawab semua konklusi Dirman.
Tapi, Dirman menyerah di pertengahan perjalanan. Jeni hanya bisa mengurut dada. “Lia tiap malam saya bermimpi, mimpinya sama. Saya tengah berjalan sendiri di sebuah lorong yang gelap. Ruang menjadi terang benderang ketika saya sudah sampai di rumah budeku. Rumah budeku bersebelahan dengan makam desa kami. Saya tidak tahu apakah ini realisasi dari mimpiku,” tuturnya dengan mata yang masih sembab.



