Sambil menunggu kantuk yang tak juga datang (tumben sekali), jadi teringat dengan blog kami berempat (saya, Liah, Ani dan Ana) yang dbuat setelah sebuah makan malam di Mal Panakukang, awal 2009. Pertemuan kami kembali di Makassar, setelah berpisah nyaris 1 dekade. Akhirnya kami bersepakat membuat blog “lajangbahagia” dan Ani yang lebih melek teknologi dibanding kami bertiga akan membuat blog-nya. Dan kami berempat boleh menuliskan apa saja di blog itu. Walopun pada akhirnya Liah yang paling produktif menulis
. Walo diikrarkan berempat, waktu itu kami mengundang the lajangers yang lain, khususnya Ana Rusli dan Hayati Maulana untuk ikutan mengisi blog ini, namun sampai saat ini tak pernah dipenuhi, hehehe. Setelah 2 tahun berlalu, jadi rindu menengok blog ini dan memenuhi janji pada Liah untuk memposting tulisan perpisahan setelah saya menikah April 2010. Dan baru sekarang, saya bisa memenuhi janji itu.
Sebenarnya tak penting. Hanya ingin menuliskan jejak kami berempat setelah 2 tahun berlalu. Dimana, bagaimana dan kemana kami sekarang. Saat itu, entah kebetulan atau tidak, kami yang dulu seangkatan magang di Penerbitan Kampus Identitas Unhas bertemu kembali di sebuah titik di Makassar setelah kami mencari hidup dan penghidupan di tempat lain. Ani, saat itu sedang menyelesaikan tahun terakhir di program S2 Komunikasi Unhas dan sudah bekerja di Humas Pemprov Gorontalo. Liah menjalani tahun pertama di program yang sama setelah meninggalkan profesi jurnalis di provinsi terkaya di Indonesia, Kalimantan Timur. Sedangkan Ana mengambil program akta mengajar (cmiiw) dan akan kembali mengajar di provinsi yang sama dengan Liah. Saya sendiri-akhirnya-bekerja di kota kelahiran tercinta setelah bekerja di Palu dan Aceh sejak 2001 (hmmm..sudah tua).
Saat itu kami sama-sama bertekad, harus sukses menyelesaikan sekolah dan harus sekolah lagi. Dan hari ini…2 diantara the lajangers tidak lajang lagi, dan 2 diantara the lajangers masih lajang namun sudah menyandang helar S2. hmmmm…Apa yang istimewa? Bagiku sagat istimewa. Kami bertemu disebuah titik ketika semua orang mulai mempertanyakan kesendirian kami. Entah sekadar menghibur, jujur bahkan prihatin, umumnya berkata, apa sih yang kalian tunggu. Masak diantara pengembaraan itu tak menemukan seseorang yang pas. Toh (katanya) wajah kami tak jelek-jelek banget (fisikal sekali yah), walo tak kaya, kami punya pekerjaanlah dan modal pendidikan, cukuplah. Tapi bukankah mencari pasangan bukan sesuatu yang matematis?
Kami terus berjalan dan menapaki episode kehidupan kami dan harus siap menjawab kegelisahan, kegamangan dan pertanyaan dari keluarga, teman, sahabat, rekan sejawat dan diri sendiri. Mengapa kami masih sendiri? Bagiku sendiri, tak jelas mengapa. Saya bukannya anti menikah, namun sampai pada sebuah titik ketika kukatakan pada diriku sendiri dan sahabat-sahabat yang bertanya tak akan menikah hanya karena memenuhi tuntutan lingkungan dan normalitas masyarakat. Entah itu tuntutan keluarga (dan thanks untuk bapak-ku yang menganggapku sudah dewasa untuk menentukan hidup), takut dicap perawan tua dan berbagai stereotype lainnya. Aku akan menikah jika sudah menemukan yang pilihan yang tepat, tepat untukku dan tepat untuknya. Alhamdullilah, Allah,SWT menjawab doa-doaku untuk memilihkan jodoh yang tepat. Tak perlu proses lama, aku dan calon suamiku, hanya butuh waktu sebulan untuk meyakini bahwa hubungan kami sudah harus lebih dari teman, dan kami bersepakat untuk menikah beberapa bulan setelah itu.
Setelah setahun masa pernikahan kami, saya baru mengingat kembali janjiku untuk menulis lagi. Tapi perlu kutambahkan teman, menjadi lajang memang membahagiakan, tetapi memiliki suami jauh lebih membahagiakan. Jujur…memang tak mudah menghadapi transisi ketika hidup kita harus berbagi. Saya butuh waktu untuk melalui itu, dan setelah setahun, saya merasa makin menemukan arti menikah dan arti berbagi. Setiap hari adalah sebuah proses untuk saling memahami karakter dan perbedaan masing-masing, dan buatku, menikah itu menjadikan kita bisa lebih bijak, dewasa dan lebih mampu berbagi.
Bagaimana Ana?….Untuk Lia dan Ani…seperti dulu saya juga jengah selalu ditanya kapan menikah, kenapa tidak menikah, jangan terlalu memilih, saya bisa merasakan itu teman. Jadi, saya tidak akan menyarankan apapun…semua orang berhak atas hidupnya. Cukuplah apa yang kutuliskan ini untuk kita nikmati bersama *sambil melirik-lirik Ana Rusli dan Hayati Maulana* sembari mengingat percakapan-percakapan kami dengan Kak Muhary yang selalu siap mendengar curhatan para the lajangers (saat itu).
Tag:lanjangers, menikah